Berihram dengan Giordano…???

IMAG1834

Kain Ihram di Gerai Giodarno

 

Bagi sebagian muslim, berihram adalah sebuah panggilan jiwa. Karena kain ihram hanya dipakai untuk dua ibadah saja, yaitu haji dan umrah. Dan, kedua ibadah ini, hanya bisa dilakukan di tanah suci saja. Dalam syariat Islam, hanya ibadah haji dan umrah saja, yang menjadikan lokasi sekaligus waktu sebagai sebuah rukun. Seorang muslim, bisa bersyahadat, shalat, dan menunaikan zakat dimanapun.  Tapi, tidak demikian hal nya dengan haji, seseorang harus menuju Tanah Suci, di Kota Mekkah dan padang Arafah serta Mina dan Mudzalifah hanya di bulan Dzulhijah. Adapun ibadah umrah, tidak mensyaratkan lempar jumrah, mabit dan wukuf. Namun, berputar mengelilingi Ka’bah dan berlari bolak balik dari bukit Safa menuju Marwah tetap disyaratkan dilakukan di dalam kota Mekkah. Maka, tak heran, jika pada akhirnya,bersafar menuju kota Suci Mekkah, menjadi sebuah tujuan dan cita cita dari seorang muslim. Disinilah mereka akan menyempurnakan rangkaian ibadahnya. Manusia-manusia beriman itu, berusaha menjemput/memenuhi/menjawab panggilan Rabb-NYA, agar dapat ber-Takbir, ber-Tahmid dan ber-Talbiyah untuk mengagungkan nama Allah Subhanahuwata’ala.

Kedatangan manusia dari seluruh penjuru dunia, untuk mengagungkan asma Allah Subhanahuwata’ala, adalah bentuk penghargaan sekaligus balasan dari Dzat Yang Maha Agung, kepada salah satu Nabi dan Rasul-NYA, yang bernama Ibrahim Alaihissalam.

  1. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.
  2. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
  3. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

(QS. Al Baqarah [2]: 124 – 126)

Ibadah haji dan umrah, sejatinya, menarik jasad, ruh dan jiwa manusia kepada satu titik terpenting di muka bumi, yaitu Ka’bah, di sebuah kota paling suci, yaitu Mekkah Al Mukarommah. Inilah kiblat, yang bagi sebagian besar muslim, hanya bisa dilihat saat berhaji atau berumrah saja. Tak heran, aktivitas manusia manusia beriman itu, fokus pada satu tujuan,yaitu beribadah semaksimal mungkin untuk meraih keutamaan pahala yang seratus ribu kali lipat, dibanding tempat lainnya, sebagaimana hadits Nabi Muhammad Shalllahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Majah.

“Satu shalat di Masjidil Haram, lebih utama dibandingkan seratus ribu shalat di tempat lainnya”.

Dan, betapa beruntungnya bangsa Arab, yang kini memiliki kuasa penuh untuk mengelola, menata dan mengorganisir proses ibadah di kota suci Mekkah. Bangsa Arab, sebagian besar merupakan keturunan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Ibunda Sayyidatina Hajar. Dari kedua manusia mulia ini, lahirlah Nabi Ismai’il Alaihissalam dan Rasulullah Shallalahu Alahi Wassalam. Status sebagai pengelola Ka’bah sudah bangsa Arab dapatkan berdasarkan nasab atau garis keturunan. Maka, tak heran jika mereka berusaha memberikan yang terbaik ketika menjadi pengelola dan penata Kota Suci Mekkah. Inilah kebanggan turun-temurun yang mereka agungkan dan jaga. Status sebagai pengelola tanah suci, seolah menjadikan mereka berhak menyandang status sebagai imam seluruh umat muslim di seantero dunia.

Tapi, kesuciaan Ka’bah tak berarti area ini, bersih dan jauh dari hal-hal pemantik dosa. Sejarah membuktikan, bahwa sebelum turun wahyu pertama di Gua Hira’, seputaran Ka’bah, menjadi pusat peradaban jahiliyah. Pola sosial dan budaya sebuah bangsa hina yang tercatat dalam sejarah, ada di seputaran Ka’bah lima belas hingga empat belas abad yang lalu. Peradaban nista itu, tak hanya ada dalam bentuk perzinahan, berjudi, perbudakan tanpa kemanusiaan, dan mengubur anak wanita hidup-hidup. Abad jahiliyah justru menjadikan Ka’bah dekat dengan dua patung besar bernama Latta dan Uzza yang menjadi simbol ke-Tuhanan. Ka’bah tak lagi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana yang Nabi Ibrahim Alaihissalam ajarkan. Justru sebaliknya, Ka’bah di masa jahiliyah adalah titik pusat kesyirikan, dengan cara menempatkan berhala-berhala disekelilingnya, sebagai suatu sesembahan.

Maka, akhir dari peradaban Jahiliyah itu muncul, ketika seorang anak keturunan Nabi Ibrahim Alaihissalam, pergi menjemput hidayah. Sosok mulia ini, berusaha mencari jawaban atas ke-jahiliyah-an bangsanya. Dan pribadi agung ini, melakukan khalwah atau menyendiri dengan cara bolak-balik dan naik turun menuju Gua Hira’ di ujung bukit Nur. Di sanalah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bisa memandang betapa rusaknya peradaban di sekitar Ka’bah, dan pada akhirnya Allah mengutus Malaikat Jibril, untuk menyampaikan wahyu pertama kepadanya.

Namun, kondisi Gua Hira’di masa kini, jauh berbeda, dengan situasi dikala Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam memulai dakwahnya. Jika dulu dari sana nampak Ka’bah yang dikelilingi berhala berhala. Kini kondisinya jauh berbeda. Ka’bah, menjadi mulia, karena iringan Takbir, Tahmid dan Talbiyah dari para jamaah haji dan umrah. Tapi, sayangnya, siapapun yang mendaki bukit Nur hingga 16 Desember 2014, tak akan mampu melihat Ka’bah dengan mata telanjang.

Mengapa ?

Karena Ka’bah tertutup oleh bangunan bangunan duniawi dalam bentuk hotel dan bangunan perumahan. Tapi, dari kejauhan Ka’bah masih bisa kita perkirakan letaknya, dengan cara menatap jam megah di ujung menara Grand Zam Zam Tower, kira kira 500 meter dibawahnya, disanalah letak arah kiblat kita.

Rasa syukur adalah hal pertama yang harus kita miliki ketika mampu menginjakkan kaki di kota Suci Mekkah, untuk berumrah atau berhaji. Sejatinya, umrah dan haji adalah ibadah bagi mereka yang mampu. Dan kemampuan ini memiliki banyak arti, mulai dari biaya, kesehatan dan yang terpenting adalah  mampu karena masih memiliki usia.

Tapi, setelah bersyukur, kita seharusnya mencari pelajaran pelajaran penting, ketika menjadi makhluk yang beruntung, karena bisa memenuhi panggilan Allah Subhanahuwata’ala. Dan, salah satu pelajaran yang bisa kita dapatkan adalah, kondisi sekitar Ka’bah yang semakin lekat dengan gemerlap perkara duniawi. Makna Ka’bah sebagai sebuah bangunan pusat, serasa lenyap seiring dengan megahnya Menara Grand Zam Zam Tower. Dan, makna Ka’bah sebagai pusat aktivitas manusia, juga mulai terkikis dengan aktivitas jual beli, utamanya oleh-oleh disekeliling Masjidil Haram.

Namun…

Yang paling menyolok, adalah semakin dekatnya kekuatan ekonomi global dengan Ka’bah. Merek internasional, seperti Hilton, Fairmont, Movenpick, Baskin’s and Robbins dan Starbucks seolah menjadi penempel Ka’bah. Bahkan, sebuah clothing-brand  internasional, berjuluk Giordano, menjual “KAIN IHRAM”.

Bagi saya, sah sah saja ber-Ihram dengan Giodarno, minum kopi di Starbucks, dan tidur di Fairmont atau Hilton selama ber-Umrah atau ber-Haji. Namun, menurut saya, semakin lama, kekuatan global itu semakin melekatkan image dan gengsi duniawi di kala beribadah. Dan, sayangnya mungkin pertanda itu semakin nyata. Karena, perlahan namun pasti, spirit Ka’bah seolah tertinggal di Mekkah, dan banyak jamaah yang pulang hanya dengan tentengan belanjaan dari toko toko di seputaran lobby Grang Zam Zam Tower atau Hilton.

Yang menjadi pertanyaan, “Siapakah yang membawa merek merek internasional itu semakin dekat ke kota yang kita sucikan, dan arah kiblat kita ?”

Yang jelas bukan kita, warga negara Indonesia, sebuah negeri yang berjarak lebih dari 9.000 km dari kota suci.

Bukannya menuduh dan memfitnah. Tapi, inilah fakta, dibalik megah dan mewahnya bangunan bangunan duniawi disekeliling Ka’bah. Dan, kita harus ingat, sejak zaman dahulu, bangsa Arab menjadikan status penata dan pengelola kota Mekkah sebagai kebanggan, dan mereka habis-habisan menjamu dan menyediakan fasilitas terbaik bagi para jamaah dan musafir yang datang menuju Ka’bah.

Namun…

Ingatlah diantara para penjamu tamu-tamu Allah itu, ada sosok Abu Jahal. Dia rela menghabiskan seluruh makanan yang tersimpan di gudang miliknya untuk dibagikan dan digunakan untuk menjamu para manusia yang berkunjung menuju Ka’bah. Para ulama, menyebutkan perilaku Abu Jahal ini, untuk menujukkan betapa kaya dan kuatnya pengaruh dirinya kepada seluruh penghuni Mekkah dan peradaban di masa itu.

Sehingga…

Ketika bangsa Arab habis-habisan membangun Masjidil Haram dan Kota Mekkah, tapi justru menjadikan Ka’bah hanyalah sebuah titik kecil dalam rancangan masa depan, mereka melakukannya karena semangat untuk melayani tamu Allah seperti yang Nabi Ibrahim Alaihissalam ajarkan ? Atau justru meniru jejak Abu Jahal ?

Wallhu ‘alam bi shawab

Yang jelas, bangsa Arab telah menyediakan Fairmont, Movenpick atau Hilton sebagai tempat menginap paling dekat dengan Ka’bah. Bangsa Arab juga menyajikan kopi Starbucks di depan pintu Fahd. Bangsa Arab juga mempersilahkan para jamaah untuk mencicipi es krim Baskin’s and Robbin’s jika kepanasan selesai thawaf.

Tapi, apa iya kita perlu ber-Ihram dengan Giordano ??? Kira kira mengapa harus ada merek Giodarno pada dua lembar kain putih, yang akan kita gunakan untuk mendekat kepada Allah ??? Apa iya, tersedianya Ihram bermerek Giordano adalah cara bangsa Arab untuk melayani dan menjamu para tamu Allah dengan sebaik baiknya ???

Wallahu ‘alam bi shawab

Rencana Pembangunan Kota Mekkah

Di masa mendatang, dari kejauhan, Ka’bah hanyalah sebuah titik di tengah rimbunnya hutan beton. Wallahu ‘alam bi shawab

 

2 thoughts on “Berihram dengan Giordano…???

  1. iya pol.. miriss… persissss bgt apa yg kurasain di th 2007 itu. produk amrik dmna2.. persisssss bgt dengan satu per satu gerai and centre yg kamu sebutin..
    allaaah,,, kuat kan kami..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s