Korporasi dan Kesejahteraan…

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Syukur Alhmadulillah… Saya panjatkan, seiring dengan berakhirnya masa libur lebaran…

Liburan itu berakir, ketika mudik, sebuah prosesi kultural yang seolah menjadi “wajib” seiring dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri, sudah diambang batas akhir. Kampung halaman, sejatinya sudah saya tinggalkan, ketika Bapak Abdul Rahman, seorang sopir taksi Blue Bird, mengantarkan saya menuju Bandara Juanda. Mudik tahun ini, sedikit berbeda, meski secara garis besar, sama makna maupun nilainya.

Salah satu penyebab perbedaan itu, adalah kisah pendek dari Bapak Abdul Rahman. Pria ini, adalah seorang “newbie” dalam dunia pertaksian. Menurut penuturannya, ia tak lebih dari delapan bulan bekerja. Seragam biru berlambang burung itu, nampaknya “terpaksa” ia gunakan, karena pekerjaannya yang terdahulu, dirasa tak lagi mampu membiayai operasional kehidupan diri dan (mungkin) keluarganya. Ternyata, dulunya, Bapak Abdul Rahman adalah seorang pekerja yang mengabdi kepada seorang juragan, yang menjadi agen telur dan daging ayam. Latar belakang ekonomi khususnya bidang peternakan, yang membuat Bapak Abdul Rahman beralih profesi ini, menarik buat saya. Bukan dari sisi pribadi Bapak Abdul Rahman, sebenarnya, tapi dari sisi, “gurita” ekonomi bernama KORPORASI.

Berdasar penuturannya, usaha sang juragan, akhirnya meredup. Hal ini dilatarbelakangi masuknya korporasi dalam bidang peternakan sektor perunggasan, yang dengan agresif masuk ke sektor hilir. Korporasi yang dulunya dikenal sebagai pabrik pakan ayam itu, terus berkembang dan “menggurita”. Jika dulunya ia hanya bergerak di sektor hulu, dengan aktivitas produksi pakan dan budidaya ayam, kini korporasi itu semakin detail dalam menguasai pasar. Korporasi itu, dengan segala “kekuatannya” akhirnya masuk ke sektor hilir, dengan cara langsung memasarkan telur dan daging ayam hasil produksinya, hingga berbisnis layaknya agen telur dan daging ayam. Akibat dari perilaku korporasi ini, agen agen telur dan daging ayam, yang berbasis individu dan usaha “menengah” dan “kecil” menjadi tergencet dan tertekan.

Jika dulunya juragan Bapak Abdul Rahman, bisa memperkejakan sopir untuk mengambil telur atau ayam hidup ke kandang, maka kini, sang juragan tak mampu lagi. Salah satu alasannya adalah sang juragan, tak mampu membeli telur dan daging, langsung ke peternak, karena para peternak sudah terikat kontrak dengan korporasi dalam bentuk kemitraan. Ketidakmampuan sang juragan membeli telur dan daging ayam langsung ke peternak, membuat usahanya menjadi meredup. Karena salah satu keuntungan agen telur dan daging adalah akses mereka, ke peternak, sehingga mendapatkan harga “kandang”. Sekarang, harga “kandang” tak mungkin didapatkan oleh agen semacam sang juragan, karena kini, kandang adalah salah satu bangunan produksi, yang berada dibawah “asuhan” korporasi perunggasan, dalam bingkai kemitraan.

Jelas ditebak, ketidakmampuan sang juragan membeli dengan harga “kandang” membuat dirinya tak layak lagi menyandang status sebagai agen, karena harga telurnya adalah harga “eceran”. Siapakah yang menentukan harga “kandang” untuk komoditas telur dan daging ayam ? Korporasi perunggasan-lah, yang menjadi jawabannya.

Jika dulunya “tentakel-gurita” korporasi hanya sampai tingkat produksi telur dan daging, maka kini “tentakel” itu semakin panjang, hingga masuk ke pasar induk dan besar. Perkembangan “gurita” korporasi ini, disatu sisi harusnya memantik keprihatinan. Korporasi, dengan “gurita”-nya sejatinya akan membuat sistem ekonomi yang terbangun ke arah dominasi KESEJAHTERAAN.

“Gurita” korporasi ini, semakin panjang dan menjerat sistem ekonomi kita. “Gurita” korporasi sejatinya hanya menguntungkan segelintir orang saja, yang menjadi pemilik-nya, yang menjadi pemilik saham. “Gurita” korporasi jelas menjadi musuh utama, banyak orang, yang coba-coba mengembangkan usaha. “Gurita” korporasi, jelas tidak ramah, terhadap usaha kecil dan menengah, yang berbasis modal kecil dan sederhana. “Gurita” korporasi jelas dibiarkan menjerat ekonomi kita, dengan “tentakel”-nya. “Gurita” itu menguasai sektor hulu hingga hilir. Buktinya jelas, ketika saya, membaca/mendengar paparan bahwa korporasi di bidang perunggasan, menguasai sektor produksi pakan dan bibit, budidaya ayam potong dan petelur, rumah potong hewan, pabrik olahan daging (pabrik sosis/nugget/dsb), obat hewan, sampai distribusi hingga di tingkat eceran. Pertanyaannya, jika anda, ingin berusaha di sektor perunggasan, dimana celah nya ????

Kalo punya kandang, besar kemungkinan, anda, tak mampu menjadi peternak mandiri, karena “bahan-baku” peternak berupa bibit dan pakan, harus membeli di korporasi. Andaikan anda bisa bikin bibit dan pakan sendiri, pasar juga telah dikuasai oleh si korporasi. Kalau mau maju, ya anda harus jadi korporasi itu sendiri, dimana anda harus mempunyai pabrik pakan, hingga mampu menjualnya menjadi seorang pengecer.

Ini, baru di sektor perunggasan. Contoh berikutnya, ada di sektor perkereta-api-an.

PT. KAI, dibawah sang Direktur Utama, bernama Ign. Jonan, telah berhasil melakukan transformasi besar di dalam perusahaannnya. Salah satu bukti nyata, adalah standar kualitas pelayanan PT. KAI terhadap para penumpang yang menjadi konsumennya, terus meningkat. Harga tiket kereta api, di jaman sekarang, semakin setara dengan kualitas pelayanannya. Stasiun dan kereta menjadi murah dan nyaman. Kebersihan adalah kebanggan utama, yang menjadi prestasi PT. KAI.

Tapi, bicara kebersihan, ala korporasi bernama PT. KAI, mengingatkan saya, kepada para pedagang asongan dan kaki lima. Dulu, saya dengan mudahnya membeli pecel di stasiun, yang dijajakan para bakul. Di dalam kereta ekonomi-pun, dengan mudahnya mendapatkan aneka barang, mulai dari pecel, ayam goreng, es teh, es cao, air mineral, tabloid, senter, remote tv, jeruk, salak, hingga peniti. Tapi, kini, pedadang asongan, di-“haram”-kan masuk ke dalam stasiun dan gerbong. Jadi, nggak jamannya lagi, kita makan nasi pecel dibungkus daun pisang yang dibeli dari bakul. Jaman sekarang, naek kereta makannya ayam goreng, yang dijual oleh restorasi. Di stasiun, juga sudah susah nyari mbok mbok pedagang pecel. Kalau mau beli pecel, ya beli di restoran yang juga dikelola oleh PT. KAI. Atas nama kebersihan dan kenyamanan, pedagang asongan, tak diperkenankan bergabung dalam pusaran ekonomi di sektor perkereta-apian. Bagaimana nasib para pedagang asongan itu ???? Yang jelas sedang mereka suarakan dalam bentuk demonstrasi.

Sekali lagi, korporasi yang meng-“gurita” sejatinya hanya berujung pada satu hal, yaitu dominasi KESEJAHTERAAN. Korporasi PT. KAI- sejatinya berujung pada KESEJAHTERAAN negara, yang menjadi pemilik-nya.

Pertanyaan selanjutnya. Apakah benar, KESEJAHTERAAN negara, berarti KESEJAHTERAAN rakyat ???? Jika dijawab sekarang, tentu tidak. Mengapa ???? Karena hasil usaha korporasi negara dibawah naungan Badan Usaha Milik Negara alias BUMN tidak mampu memberikan kontribusi nyata, dalam mensejahterakan kita, sebagai rakyat. Buktinya jelas, ketika sektor penerimaan negara dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) menggantungkan lebih dari 70% dari sektor pajak, bukan dari keutungan usaha BUMN. Dan, pajak terbesar itu, berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPn). Kedua pajak itu, adalah beban pajak kepada para rakyat. Dan, dari keutungan yang tak “seberapa” itu, seringkali digunakan para pengelola negara untuk mensejahterakan diri dan kelompoknya dalam kinerja bernama korupsi.

KESEJAHTERAAN yang menjadi milik individu atau sekelompok orang pemegang saham, adalah hasil “gurita” korporasi swasta. Sedangkan KESEJAHTERAAN para penyelenggara negara, yang menyelewengkan hasil “gurita” milik negara, adalah hasil korporasi BUMN. Pertanyaan terakhir, kapan kita bisa menikmati KESEJAHTERAAN ????
Hanya ada dua saja nampaknya. Membangun korporasi swasta milik anda sendiri. Atau, berjuang merebut simpati rakyat, agar mendapat amanat menjadi pengelola negara. Apakah benar jawaban saya ini ? Wallahu Alam Bi Shawab.Yang jelas, dua jawaban itulah yang saya tahu, untuk saat ini.

Untungnya, saya punya pikiran sederhana, KESEJAHTERAAN duniawi itu pasti berkutat pada unsur “materi”. Sedangkan KESEJAHTERAAN hakiki itu, ada dalam bentuk ketika kita berbagi kesenangan/keceriaan/rezeki/tenaga/canda dengan orang orang yang kita sayangi/cintai/kasihi. Makanya, mengapa orang rela menghabiskan cadangan dan tabungan “duniawi”-nya dengan bersusah payah mudik di Hari Lebaran ? Karena (mungkin) di negeri ini banyak para pencari KESEJAHTERAAN hakiki, dengan cara membelanjakan seluruh KESEJAHTERAAN duniawi yang dimilikinya. Dan apes-nya pemilik korporasi swasta, biasa tak paham Lebaran secara makna. Dan, biasanya para pengelola negara yang menyelewengkan keutungan Korporasi milik Negara, malah ber-Lebaran di penjara.

Intinya sih, korporasi dengan “gurita”nya itu akan selalu berkecimpung dalam konteks dunia. Makanya, hasilnya pun duniawi semata, dalam bentuk, keutungan, pertumbuhan usaha, dan sebagainya. Tapi, kalo korporasi itu dibangun untuk meraih KESEJAHTERAAN hakiki, mereka akan mampu membahagiakan/menyenangkan/menggembirakan orang orang yang terlibat di dalamnya.

Jadi, ketika mudik telah usai. Dan kembali bekerja. Mari bertanya pada diri sendiri, apakah tempat kita bekerja menjanjikan KESEJAHTERAAN duniawi semata ? Bisa dijawab iya, ketika anda tidak merasa bahagia/senang/gembira di tempat kerja. Kalo sudah begitu, semuanya terserah anda. Yang jelas KORPORASI yang mengejar KESEJAHTERAAN duniawi akan menjadikan anda sebagai bagian dari human capital. Lain hal-nya dengan KORPORASI yang membangun KESEJAHTERAAN hakiki, mereka akan menempatkan kita sebagai mitra kerja.

Yang jelas, saya nggak tahu, Bapak Abdul Rahman ini, bagian dari human capital atau mitra kerja dari pemilik Blue Bird Grup. Tapi, jelas, Bapak Abdul Rahman adalah teman saya yang menginspirasi untuk membuat tulisan ini. Semoga anda nggak bingung/bosan/bete setelah membaca tulisan saya. Toh saya ga maksa kan… Tapi, harapan saya baik kok. Semoga anda menemukan arti sejahtera ketika bekerja selapas mudik lebaran nanti. Aamiin.

Wassalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak Abdul Rahman, sopir taksi Blue Bird Surabaya

Bapak Abdul Rahman, sopir taksi Blue Bird Surabaya

One thought on “Korporasi dan Kesejahteraan…

  1. Pingback: rizkyfajarmeirawan | Korporasi dan Kesejahteraan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s