Melawan Arus…

Bagian 1…

http://www.thejakartapost.com/news/2014/05/12/risma-sue-unilever-damaging-taman-bungkul.html

Berita diatas adalah salah satu bentuk ketegasan seorang Walikota, terhadap upaya vandalisme. Bagi seorang Risma, Taman Bungkul (mungkin) bukan hanya sebuah bangunan taman, yang telah meraih aneka penghargaan. Taman Bungkul, bagi Risma (mungkin) menjadi saksi dan bukti otentik perjalanan karirnya, sebagai birokrat di kota terbesar kedua di Indonesia. Proses revitalisasi taman bungkul, dari sebuah lapangan kosong dan kompleks makam Sunan Bungkul di tengah kota, menjadi sebuah titik kumpul pelepas penat, melalui jalan berliku, dan tentu membutuhkan dana yang boleh dibilang besar. Berdasarkan situs http://www.dkp-surabaya.org Pemerintah Kota Surabaya, di tahun 2007 mengeluarkan dana hingga 1,2 milyar rupiah, untuk membangun aneka fasilitas publik di taman bungkul, mulai dari menata taman, membangun jogging track, hingga merapikan para pedagang jajanan khas-asli Suroboyo.

Ketika melihat Taman Bungkul rusak dalam sekejap, maka inilah salah satu bentuk vandalisme. Biasanya, vandalisme di Surabaya, lekat dengan komunitas warga kota, yang bernama Bonek. Bonek adalah sekelompok anak muda Surabaya, yang tak kenal takut, tapi rajin membuat ulah, terlebih ketika Persebaya kalah. Ciri khas Bonek di masa lalu adalah mengandalkan kenekatan untuk menonton pertandingan sepak bola, dan gemar merusak fasilitas umum. Beberapa tahun lalu, pertandingan sepak bola, yang diselenggarakan di Gelora 10 November Tambaksari, adalah salah satu alasan untuk menghindari kawasan pusat kota. Hal ini didasari, bahwa Bonek di masa lalu adalah para berandal, yang menjadikan telepon umum, halte, hingga pos polisi, sebagai sasaran amukan. Level kerusakan paling ringan, yang dilakukan para Bonek dimasa lampau adalah tulisan kata “Jancok” di berbagai fasilitas umum.

Tapi, membicarakan Bonek dengan vandalisme adalah sebuah kajian sejarah. Seiring dengan kesadaran dan binaan pengurusnya, Bonek bermetamorfosis menjadi sekelompok pendukung Persebaya yang santun, menghargai sportivitas, dan mampu mengendalikan diri untuk menjaga jarak dengan perilaku bernama “amuk massa”.

Lalu, siapakah yang tega merusak dan merampas keindahan taman bungkul ?

Image

Ternyata, perusakan taman bungkul, berawal dari sebuah kudapan, yang secara harga, seharusnya berlabel “MURAH”.

Tapi, mengapa barang “MURAH” ini berhasil membuat warga kota Surabaya, melupakan etika untuk menjaga fasilitas umum, yang menjadi salah satu tetenger kotanya ?

karena barang “MURAH” ini, diberikan secara “GRATIS”.

Maka, siapa yang salah ? Dan siapa yang harus dituntut karena rusaknya Taman Bungkul ?

Yang harus dituntut oleh Risma, seharusnya adalah warga kota sendiri.

Warga kota Surabaya, sejatinya bisa menjaga dengan tertib, karena inilah pusat rekreasi GRATIS yang ada di tengah kota. Taman Bungkul, tak memerlukan tiket masuk seperti Kebun Binatang, atau Monumen Kapal Selam, sehingga proses melepas penat, karena bisa duduk santai di bawah pohon rindang tak harus merogoh kocek. Jikapun harus membayar, maka dengan selembar dua puluh ribuan, anda sudah bisa menitipkan sepeda motor di lahan parkir, menikmati seporsi bakso dan segelas es teh manis.

Tapi…

Ketika Taman Bungkul jadi lokasi penyebaran jajanan senilai 2800 rupiah secara GRATIS, maka, taman, bunga, rumput, dan kebersihan Taman Bungkul harus dilupakan. Memperebutkan barang GRATIS adalah sebuah keniscayaan. Meski secara logika keuangan, diri kita sanggup membelinya dengan cara yang lebih beradab.

Artinya, Taman Bungkul dijaga karena menjadi arena pelepas penat yang GRATIS, tapi Taman Bungkul juga dirusak karena perebutan kudapan manis yang GRATIS.

Jika di hari minggu pagi lalu, anda berada di Taman Bungkul, dan memutuskan untuk pergi dari sana, karena prihatin dengan perilaku massa, yang seolah tak logis dan beradab, maka anda lah para pelawan arus. Ketika mayoritas warga menyerbu, hingga lupa telah menginjak taman dan bunga, dan anda justru berpikiran untuk pergi menjauh dari kerumunan itu, maka anda telah melawan arus.

Pilihan untuk menjadi minoritas, memang patut dipertanyakan. Tapi, justru kaum minoritas adalah para penguasa yang mampu berkuasa karena kekuatan logika. Buktinya ada, ketika kita melihat betapa digdaya nya bangsa Yahudi di dunia. Padahal, mereka hanya berjumlah tak kurang dari 5% dari 7 milyar umat manusia. Sedangkan mayoritas bangsa Muslim di Surabaya, malah lupa, bahwa rumput dan tumbuhan taman, sejatinya adalah makhluk ciptaan Allah SWT, yang harus dijaga kelestariannya.

Pembelajaran 1…

Arus = Penyerbuan perihal yang gratis

Melawan Arus = Menjauh dari kerumunan, karena prihatin dengan egoisme massa hanya karena berebut barang yang bernilai rendah

 

Bagian 2…

http://www.thejakartapost.com/news/2014/05/13/daughter-dangdut-king-says-she-will-leave-country-if-jokowi-becomes-president.html

Dalam akun sosial media miliknya, Debby Rhoma, mengungkapkan kekecewaannya. Hal ini, didasari atas fenomena politik yang mengecewakan sanubarinya. Bagaimana tidak, kandidat presiden yang (mungkin) menurut nuraninya pantas memimpin negeri, malah terancam tak kebagian tiket masuk dalam kompetisi Pemilihan Presiden di tahun ini. Bagi seorang Debby, gagalnya sang pujaan dalam proses demokrasi adalah salah satu bagian dari kekalahan besar, dalam sejarah kehidupan. Bagi Debby, Rhoma Irama adalah sosok paling ideal untuk memimpin Indonesia. Di matanya, Indonesia di tahun 2014, harus menyediakan tempat bagi sang raja untuk berkontribusi memimpin negeri.

Salah satu bentuk kredibilitas dan kapabilitas Rhoma Irama adalah ketegasan dan kelugasan dalam lirik lagu lagu, yang ditulisnya. Bagi Rhoma Irama, bangsa Indonesia seharusnya mengenal visi dan misi kepemimpinannya ketika mempelajari lagu lagunya. Lirik lagu, (nampaknya) menjadi modal Rhoma Irama untuk memimpin negeri. Rhoma Irama merasa, popularitasnya adalah sumber kredibilitasnya untuk mempin. Karena bagi dirinya, jutaan rakyat Indonesia yang menggemari lagunya, berarti secara tidak langsung telah setuju dengan visi dan misinya dalam membangun negeri.

Artinya Bang Haji berpendapat, lagu lagunya, bukan hanya sebuah karya seni. Namun sebuah mahakarya pemikiran. (Mungkin) Bang Rhoma berpendapat, lagunya seharusnya bisa disejajarkan dengan Indonesia Menggugat milik Soekarno, Konsep Dasar Koperasi milik Mohammad Hatta, Tafsir Al Azhar milik Buya Hamka, Mosi Integral Natsir milik M. Natsir, dan Paradigma Ahlussunah wal Jama’ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah milik KH. Hasyim Asy’ari.

Bang Rhoma ini, sejatinya (bisa dikatakan) tidak sendiri. Banyak orang orang seperti Bang Rhoma, yaitu para manusia Indonesia yang menyorongkan dirinya, untuk dapat bergabung dalam gerbong terdepan dari sebuah kereta bernama Pembangunan Indonesia. Bang Rhoma hanyalah satu figur dari ribuan orang yang menganggap dirinya memiliki modal kuat untuk memimpin, utamanya dalam bidang Legislatif dan mengisi Jabatan Presiden beserta Jajaran Kabinet baru hasil Pemilihan Presiden 2014.

Demokrasi, yang menjadi sistem utama dalam politik di Indonesia, menyediakan ruang yang luas, bagi siapapun, dimanapun ia dan kapanpun ia dilahirkan, asalkan dirinya memenuhi persyaratan utama, seperti yang dituliskan dalam UUD 1945 pasal 6 dan 6A.

Tapi, demokrasi nampaknya membutuhkan banyak biaya, dalam proses menemukan calon pemimpin bangsa. Andaikan demokrasi seperti ini yang diterapkan di tahun 1945, mungkin Indonesia tak akan pernah merdeka di tanggal 17 Agustus. Karena panjang dan berlikunya proses untuk memilih siapakah yang pantas untuk menjadi duet proklamator.

Demokrasi hanyalah membutuhkan legitimasi suara dari rakyat, dalam bentuk lubang dalam kertas suara. Tapi, apakah jumlah kertas berlubang menunjukkan dan menjanjikan kepemimpinan yang adil dan bermartabat ? Sepertinya (kok) TIDAK.  Mengkaji peta politik dan suksesi kepemimpinan,dalam lingkup demokrasi, membuat kita (akan) menemukan sebuah fenomena dalam proses pencarian dan delegasi suara rakyat. Proses pencalonan dan pemilihan pemimpin di tahun ini, sejatinya merujuk pada dua hal saja, yaitu uang dan popularitas. Uang dibutuhkan sebagai mesin untuk berkampanye. Sedangkan popularitas bisa diraih dengan beberapa cara, mulai dari menjuarai survey sebelum pemilu digelar, memanfaatkan jaringan media yang dimiliki untuk menyampaikan citra diri, hingga menggalakkan pemasangan media luar ruangan di penjuru kota, yang mencantumkan foto diri, gelar akademis, hingga janji yang (akan) ditepati jika terpilih.

Arus utama dalam proses suksesi kepemimpinan adalah menyorongkan uang dan popularitas kepada rakyat untuk memilih dirinya. Popularitas adalah modal utama untuk meyakinkan para pemilik suara. Tapi, figur paling populer bukanlah jaminan bahwa seorang manusia Indonesia, adalah insan terbaik untuk memimpin rakyat dan bangsanya. Keyakinan rakyat pada figur populer, dalam demokrasi di Indonesia, dipertegas dengan beberapa lembar rupiah dan hibah barang, beberapa saat sebelum hari pencoblosan tiba.

Masih dalam kajian suksesi kepemimpinan, inilah salah satu kajian sejarah, yang tertulis dalam Al Quran.

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf [12]: 55)

Menawarkan diri untuk menjadi pemimpin negeri, bukanlah sebuah perkara yang di HARAM kan. Tapi, tengoklah modal anda.  Al Quran meneladankan, bahwa amanah dan pengetahuan adalah modal utama untuk menyorongkan diri dalam proses suksesi.

Tapi, jika orang yang amanah dan berpengetahuan yang diberi kesempatan memimpin negeri, nampaknya adalah sebuah tindakan yang tidak lazim, dan melawan arus.

Arus utama dalam dunia politik praktis di Indonesia adalah modal uang dan popularitas. Orang yang melawan arus, bukannya dipinggirkan dalam dunia politik. Tapi, mendapatkan tempat dalam dunia politik konseptual, yang penuh dengan idealisme dan kesempurnaan. Tataran politik praktis lekat dengan idiom “Power Sharing” serta “We can’t share our power, if you don’t have (money and publicity) power”.

Pembelajaran 2…

Arus = Menyorongkan diri sebagai Pemimpin bermodalkan uang dan popularitas

Melawan Arus = Menjadikan amanah dan pengetahuan sebagai langkah untuk memperbaiki kondisi negeri

Perilaku melawan arus, adalah sebuah perkara yang lekat dengan komunitas minor. Sekumpulan individu inilah, yang tak mau ikut berebut barang yang murah. Karena ia sadar, amanah dan pengetahuan adalah sebuah modal yang tak boleh digunakan untuk merebut sesuatu yang bernilai rendah. Layaknya massa yang memperebutkan es krim gratis, atau kekuasaan yang diraih dengan modal uang dan popularitas.

Sejatinya, apakah sesuatu yang bernilai rendah itu di mata ajaran agama Saya ?

“Dunia merupakan tempat tinggal bagi orang yang tidak punya tempat tinggal, juga merupakan harta bagi orang yang tidak mempunyai harta. Dan hanya karena dunialah orang yang tidak berakal mengumpulkannya.” (HR. Ahmad)

Rasionalisme di era digital adalah landasan yang berkeyakinan bahwa keteraturan yang ada di dunia, tak pernah lepas dari kuasa manusia. Inilah ideologi yang menjadi arus utama, ketika berbicara peradaban. Dunia modern, seakan terus mengedepankan nalar bahwa manusia adalah paling sempurna, yang tugas utamanya menjadi pemimpin bagi dunia dan seisinya. Teori bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung dari Yang Maha Esa, Yang Maha Memiliki dan Yang Maha Mengetahui semakin terpinggirkan ketika ilmu duniawi mengandalkan empirisme. Maka tak heran jika akhirnya saya mendeskripsikan bahwa manusia rasional adalah manusia yang mengandalkan nalarnya untuk menggapai dan membangun bangunan bangunan megah duniawi, yang dirasa akan abadi.

Maka bisa jadi inilah prinsip utama hidup dan kehidupan para pelawan arus dalam menjalani kehidupannya, di mata Saya.

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

 

menjadi asing, itu biasa… bergabung dalam kelompok minoritas… bukan bencana…

karena…

kebenaran yang sifatnya duniawi… adalah sesuatu dimana banyak orang yang meyakini…

dan…

ketika bicara mengenai hidup sesudah kehidupan… saat mencari tahu siapakah penghuni neraka ??? kata ganti yang sering digunakan adalah… kamu/kaum/mereka/bangsa/orang-orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s