Opini dan Citra Diri…

Akhirnya… Kita sudah memasuki akhir minggu lagi…

Kehidupan duniawi, dalam era digital seakan berputar lebih cepat… Banyak sekali aktivitas yang menyibukkan, sehingga tanpa terasa pergantian hari, bukanlah sebuah perkara yang lambat. Dunia modern, seakan membuat manusia membutuhkan lebih dari 24 jam dalam sehari, untuk menyelesaikan segala tugas dan urusannya. Sehingga jarak dari hari Minggu ke Sabtu sepertinya kurang dari 7 hari.

Salah satu pembunuh waktu di abad ke 21 adalah perkembangan dunia komunikasi, khususnya media. Manusia yang melalui masa remaja di era tujuh puluhan mungkin sulit mengikuti perkembangan media massa. Jika dulu, televisi, radio, koran dan majalah adalah bentuk paling umum dari sebuah media massa, maka kini, terdapat sebuah bentukan atau platform baru dari media, yaitu media sosial atau lazim dikenal dengan istilah social media. 

Social media, sejatinya merubah gaya berkomunikasi manusia. Dulu, hanya seorang pejabat atau pekerja media serta jurnalis yang memiliki akses untuk menyampaikan pemikiran, gagasan, dan karya jurnalistiknya kepada khalayak ramai. Sehingga dibaca atau didengar orang banyak, maka, kini tidak lagi. Orang dengan akun Facebook, Twitter, atau blog pribadi, bisa menyuarakan opini dan aspirasinya, dan itu bisa menjadi sebuah isu publik.

Fungsi lain dari social media, adalah ajang komunikasi terbatas, yang biasa dikenal dengan group-chatting. JIka dulu dikenal istilah radio komunitas, dimana masing masing anggotanya memiliki perangkat handy talkie (HT) untuk berkomunikasi dalam sebuah komunitas tertutup, maka hal ini sekarang  tidak lagi banyak digunakan orang. Pergeseran itu, ditandai dengan bermunculannya aplikasi chatting di perangkat telepon pintar dan komputer tablet, antara lain whatsApp, line, kakao-talk, Blackberry Messenger, yahoo-messenger, dan Facebook Messenger.

Inilah gaya berkomunikasi modern. Di Indonesia sendiri, mungkin akses social media, tak akan semudah seperti saat ini, jika tak ada masa reformasi. Perbedaan Orde Reformasi dengan Orde Baru dan Lama adalah kebebasan manusia Indonesia, untuk berpendapat. Kini, opini publik bukan lagi dominasi otoritas negara dan pemilik serta pekerja media saja. Satu orang, sudah mampu membuat sebuah isu privat menjadi sebuah isu publik, ketika ia memutuskan untuk mengunggah opininya melalui social media.

Di bawah ini, beberapa contoh penggunaan social media, untuk menyampaikan sebuah opini pribadi :

Gambar

Gambar

Era digital yang disertai dengan penjaminan kebebasan berpendapat, adalah surga dunia bagi insan yang senang dan gemar mengutarakan pendapat dan pemikirannya. Melalui akun Facebook, Twitter dan WordPress seorang biasa bisa mengungkapkan ide, pemikiran, karya seni, gagasan, ketidaksetujuan, bahkan kecaman atas berbagai hal dan perkara.

Sinta-Jojo, Justin Bieber, Norman Kamaru, Barack Hussein Obama, Jr., Arief Muhammad, Malala Yousafzai, Raditya Dika, Julian Assange dan Muhammad Assad, adalah contoh beberapa orang yang dikenal publik karena eksistensinya di dunia maya. Mereka mampu mencuri perhatian, setelah mampu menuliskan pemikiran dan karya melalui social media. Tidak semua kehebohan di dunia maya, juga menghebohkan dunia nyata. Namun, contoh diatas membuktikan bahwa publik bisa mengenal mereka, karena aktivitas di dunia maya, mulai dari unggahan video lip-sync, kemampuan memainkan alat musik, kisah parodi, cerita mengenai perjuangan memperoleh pendidikan, pengungkapan kebohongan dari negeri adikuasa, hingga visi dan misi kepemimpinan.

Melalui social media, seseorang bisa membangun sebuah citra diri. Jalan menjadi penyanyi bisa melalui http://www.youtube.com. Media kampanye adalah page di http://www.facebook.com. Gagasan singkat bisa dicelotehkan di http://www.twitter.com. Penyampaian ide dan berbagai pengetahuan, bisa disampaikan di http://www.wordpress.com. Inilah jalan keluar dari seorang yang ingin membangun citra diri sebagai figur publik. Aktivitas membangun citra diri untuk menjadi figur publik, akhirnya menimbulkan fenomena, yang disebut dengan narsisme. Dalam bahasa populer, social media, adalah tempat narsis biar eksis.

Namun, sayangnya, banyak pengguna yang kurang memahami esensi dan fungsi dari sebuah social media. Menurut saya, social media, terbagi atas dua bagian. Yaitu ajang tampilan profil  serta citra diri, dan ajang berkomunikasi dengan komunitas.

Jika anda, berniat untuk menyampaikan opini, ide, gagasan, dan berbagi informasi, silahkan anda unggah melalui akun social media anda. Tapi, jika anda tergabung dalam sebuah group-chatting anda harus mengerti bahwa fungsi utama dari grup tersebut adalah berinteraksi dengan komunitas yang terbatas.

Status dan tulisan pribadi di Facebook, twitter, dan blog pada dasarnya adalah pamer profil diri di sebuah etalase. Anda bebas mengisi etalase tersebut dengan berbagai macam hal dan perkara, mulai dari uneg-uneg, curahan hati, ungkapan emosi, foto diri, bahkan video keluarga. Apa yang anda unggah di etalase di social media, adalah hak anda. Dan, sejatinya, tidak seorangpun yang berhak untuk keberatan atas unggahan anda. Kecuali, jika unggahan tersebut memang anda gunakan untuk menyerang pribadi atau sebuah instansi. Dan, seharusnya anda sadar atas resiko ini.

Namun, tulisan dan berbagi video, pesan suara, bahkan foto di sebuah group-chatting di whatsApp atau Blackberry Messenger sejatinya berbeda fungsi dan makna dengan penjelasan di atas. Ketika anda memutuskan untuk bergabung dalam sebuah grup. Berarti suka tidak suka, mau tidak mau, apapun yang anda unggah di grup itu, harus dibaca oleh semua anggota. Artinya secara tidak langsung, anda memaksa semua anggota di grup untuk membaca serangkaian pesan anda.

Jadi pesan yang anda tulis di group-chatting pada whatsApp dan Blackberry Messenger bukanlah sebuah sop buah di etalase, namun layaknya sop buah di meja hidangan, yang dikerubuti saat berkumpul dengan rekan dan kolega.

Perbedaannya, etalase adalah lemari pamer, dan tidak ada keharusan orang lain untuk menengok etalase anda. Namun, suguhan di meja hidangan, sejatinya mengharuskan orang yang mengerubunginya untuk mencoba. Di etalase pribadi, anda boleh memajang sop buah yang menjadi makanan favorit anda, dan anda tak bisa memaksa orang lain untuk mencicipinya. Namun, jika sop buah itu anda hidangkan di meja yang dipenuhi oleh kolega anda, maka ada sebuah kewajiban tak tertulis kepada semuanya untuk mencicipinya.

Sop buah disini adalah analogi untuk ide, gagasan, pemikiran, foto pribadi, dan video keluarga. Etalase adalah analogi untuk Facebook dan twitter serta wordpress. Sedangkan meja hidangan adalah analogi untuk group-chatting di whatsApp atau Blackberry messenger.

Jika kita mampu memahami analogi diatas, maka seharusnya kita bisa memilah dimanakah seharusnya kita meletakkan sop buah kita. Ukurlah meja hidangan. Semakin banyak anggota, yang mengerubunginya, maka hak kita untuk menempatkan hidangan, sejatinya semakin sempit. Hargailah sesama rekan dan kolega yang sama-sama duduk di meja. Jangan sampai mangkok sop buah kita memakan tempat, bahkan mendominasi meja hidangan. Bijaklah, dan berilah kesempatan kepada brownies, cheese cake, bahkan pisang goreng, yang menjadi suguhan teman dan kolega untuk sama sama disajikan di meja hidangan.

Bukankah anda sering kali mendengar keluhan, bahwa meja hidangan terlalu penuh dengan aneka suguhan. Jangan sampai keakraban dan silaturahmi yang ingin dijalin, akhirnya harus terputus, karena perut sudah terlalu penuh dengan sop buah kita, hingga menyebabkan muntah. Jika anda yakin sop buah anda memiliki cita rasa yang lezat, tempatkanlah di etalase pribadi anda. Sehingga orang yang ingin mencicipinya bisa menuju ke toko anda. Letakkan saja lokasi toko anda itu di secarik kertas, dan sah sah saja, ketika anda meminta ijin untuk membagikannya di atas sebuah meja hidangan.

Social media, sejatinya adalah alat sekaligus tempat bagi anda untuk membangun sebuah citra pribadi. Hak anda untuk membangun sebuah citra, namun yang patut diwaspadai adalah jangan sampai citra yang kita bangun, di social media, malah menurunkan kesan positif di dunia nyata. Telah banyak kasus, dan perkara negatif, yang disebabkan oleh gaya komunikasi kita di social media.

Anda boleh mengutarakan pendapat bahwa Album dari Band A adalah yang terbaik. Namun, utarakan saja di akun Facebook. Anda boleh kagum dan bersyukur atas karunia buah hati. Namun, unggah saja fotonya di blog pribadi, bukan disampaikan ke group-chatting. Ingatlah, kapasitas group-chatting, jangan sampai terlalu penuh dengan perkara diri kita. Hargailah, bahwa banyak anggota yang mungkin merasa terganggu dengan dominasi kita.

Citra dan kesan adalah sesuatu yang kita bangun. Namun, kita tak mampu mengarahkan seperti apa bentuknya. Sudah banyak contoh, seorang yang ingin membangun citra pintar, malah tampak bodoh. Ingin bercitra bersih, malah tersangkut kasus korupsi. Ingin bercitra pengasih, malah sering menyerang pribadi. Ingin bercitra bijaksana, malah suka memaksa.

Kadangkala, orang yang pintar dan mampu meraih simpati, karena ia mampu membangun sebuah citra diri yang sederhana, namun bijaksana. Bijaksana di benak saya, tak selalu bertindak benar, namun mampu menempatkan dimanakah sebuah kebenaran itu harusnya berada.

Pemikiran dan unggahan foto bagi saya memiliki nilai dan makna yang sama, yaitu bagian dari proses pembangunan citra diri. Image ibu akan identik dengan rangkaian foto buah hatinya. Image pekerja yang sukses akan identik dengan nama perusahaan tempatnya bekerja. Image siswa cerdas akan identik dengan lokasi sekolahnya. Letakkan saja semuanya di etalase anda. Dan biarkan orang lain menikmatinya. Jangan paksakan image tersebut menjadi suguhan utama di meja hidangan yang luasnya terbatas. Karena belakangan ini, image pengganggu lekat dengan orang yang ingin mendominasi di ruang publik yang tak lapang.

Orang bijak di mata publik adalah figur yang mampu menempatkan diri dalam bersosialisasi dan menggunakan media. Sedangkan seseorang menjadi tidak dihargai publik, karena ia kerap memakai media massa dan sosial sebagai sarana penyebaran sebuah isu pribadi.

Mungkin, perbedaannya bisa terasa, setelah melihat dua video ini, dimana dua orang, dengan latar belakang dan aktivitas yang senada, namun memiliki gaya komunikasi yang berbeda, dan sepertinya, menjadikan keduanya berbeda “kelas” dan “level” dalam pandangan publik :

http://www.youtube.com/watch?v=0rxq-jHg7GA

http://www.youtube.com/watch?v=C-4a0My5Yho

Hampir semua orang ingin populer. Oleh karenanya social media menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Namun, bagaimanakah citra anda dalam popularitas itu ???

Anda sendiri yang membangunnya…

Namun, belajarlah bijak… Karena popularitas bisa menjebak diri kita berada posisi yang terjepit… Dan dicontohkan disini…

http://hollywoodlife.com/2012/05/30/miley-cyrus-cutting-again-new-pics-cutter/

Semoga opini pribadi saya ini, bisa dipahami sebagai sebuah upaya untuk membangun citra sebagai orang yang berani menuliskan sebuah ketidaksetujuan atas fenomena sosial. Dan ketika anda membacanya, ingatlah ini adalah opini pribadi mengenai beberapa bahkan banyak orang, jangan dianggap sebagai sebuah persoalan personal. Karena bagi saya, deskripsi profil dalam opini pribadi tidak layak dilakukan untuk orang orang yang tidak memiliki kontribusi besar, dalam sebuah komunitas sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s