Bahasa dan Inferioritas…

Dua hari ini, media sosial, dijejali dengan cuplikan video lucu mengenai seorang laki laki, yang mencuri perhatian publik, dalam rangka publikasi proses pertunangannya di sejumlah media. Kemunculan laki laki ini, pada akhirnya menimbulkan kontroversi, mulai dari laporan mengenai perilakunya dalam berhubungan dengan beberapa wanita, kasus penipuan, hingga yang paling banyak diperbincangkan, penggunaan dan pemilihan kata dalam menyusun kalimat yang dia utarakan.

Beberapa orang, yang memiliki akses media dan mampu mengoperasikan perangkat audio-video editing akhirnya dengan jeli dan secara mendetail mengkritisi dalam balutan audio-visual. Keanehan sekaligus kelucuan gaya bicara dan bahasa si laki laki itu, akhirnya, mencuatkan namanya dalam komunitas dunia maya. Bahkan dijadikan bahan pemancing tawa, oleh beberapa praktisi media. Bagi yang masih belum memahami latar belakang tulisan diatas, bisa mengunjungi link dibawah ini :

Video tersebut, bagi saya, awalnya memang memancing tawa. Tapi, setelah beberapa teman, membicarakannya dan tertawa saat menontonnya, maka sejatinya, si lelaki di video itu tidak sendiri. Saat ini, dia memang seakan menjadi bahan tertawaan. Namun, sebenarnya banyak manusia Indonesia, yang juga berperilaku serupa dengan si lelaki di video itu.

Ini yang menarik bagi diri saya pribadi, sehingga pada akhirnya, saya menuliskannya dalam blog pribadi.

Kita seharusnya bersyukur, bukan diri kita yang ada di video itu, sehingga menjadi bahan tertawaan dan olokan. Sadarkah kita, bahwa, cara berbahasa kita, banyak sekali memadukan tiga jenis bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Ibu, dan Bahasa Asing ?

Penguasaan bahasa asing, utamanya bahasa Inggris, seiring dengan proses pembangunan pendidikan, bagi saya, bukan lagi ekuivalen dengan intelektualitas. Bahasa Inggris, bukanlah lagi sebuah bagian dari ilmu pengetahuan sosial, yang hanya bisa dikuasai oleh kalangan tertentu.

Bahasa Inggris, telah menjadi bagian dari gaya hidup populer dan digunakan dalam suasana informal. Buktinya nyata, ketika kita terbiasa mengucapkan beberapa kalimat berikut ini:

please deh…. ga usah lebay…”

” mas, tolong dua halaman ini di-print ya… ”

” aduh lupa buka e-mail deh… jadi lupa deh forward tugas ke dia…”

” Pak, saya sudah submit KRS, minta tolong di approve ya pak, biar saya bisa ambil mata kuliah bapak semester ini…”

” yah… handphone ku hang… kebanyakan message sih…”

Sebagian kata dalam bahasa Inggris, telah menjadi bahasa populer, dan itu menunjukkan pergeseran atas makna bahasa Inggris sebagai ilmu pengetahuan yang eksklusif. Di era digital, bahasa Inggris adalah bahasa yang inklusif, yang bisa dipelajari, dan digunakan oleh masyarakat secara luas, tanpa terhalang status ekonomi atau sosial.

Namun, sejatinya, yang perlu dikritisi atas penggunaan bahasa Inggris dalam pola komunikasi adalah penggunaannya dalam tataran formal. Dan, yang paling mudah dicontoh dan dilihat adalah bagaimana gaya bahasa pejabat dan penyelenggara negara, terutama saat berpidato dalam acara resmi, sekaliber pidato penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Dalam pidatonya, termasuk dalam pidato kenegaraan, Presiden Republik Indonesia, seringkali menyampaikan isi dan pesan dalam dua bahasa sekaligus dalam satu kesempatan, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tiada yang salah memang, menyampaikan pidato dengan perpaduan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Namun, secara pribadi, saya mengkritisi pilihan presiden untuk menyampaikan maksud dan arahan serta tujuan pembangunan yang ditujukan kepada seluruh rakyat dengan bahasa Inggris.

Mengapa ?

Karena Indonesia adalah sebuah negara dan bangsa yang telah mengakui dan menyepakati bahwa bahasa resmi adalah bahasa Indonesia. Indonesia, bukanlah Singapura yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa resmi.

Penyampaian pesan formal, dari kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, hendaknya dipahami bahwa pesan ini, adalah pesan yang harus dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam pidatonya, presiden sering memberikan arahan yang sifatnya menjelaskan, dalam bahasa Inggris. Artinya bahasa Inggris dipakai untuk memberikan arahan yang lebih jelas atas sebuah keadaan, yang sejatinya bisa dijelaskan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

simaklah video dalam link berikut ini:

Bagi saya, gaya komunikasi formal presiden, seakan menekankan bahwa inti dan isi pidatonya, akan lebih terarah dan sesuai maknanya ketika disampaikan dalam bahasa Inggris. Sehingga, ada kesan bahwa bahasa Indonesia, seakan kurang mampu menjelaskan isi masalah, jika tak disambung dengan rangkaian kata kata dalam bahasa Inggris. Dan, menurut saya, ini tak baik untuk dijadikan teladan.

Karena, orang nomor satu di negeri ini, ternyata harus menggunakan bahasa asing, untuk menjelaskan tujuan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, kepada rakyatnya sendiri. Apakah penguasaan bahasa Indonesia oleh rakyat sedemikian rendahnya, sehingga untuk menjelaskan permasalahan dalam negeri dibutuhkan bahasa asing untuk pendeskripsiannya ?

Bahasa Inggris, memang merupakan salah satu bahasa asing yang seakan wajib dikuasai oleh manusia Indonesia, agar mampu menyesuaikan diri dan ikut bersaing dalam memperebutkan kue kesuksesan. Pola pikir ini, tampaknya menjangkiti sebagian besar orang tua, yang berlomba lomba untuk mengajarkan bahasa Inggris atas buah hatinya.

Bahkan dalam beberapa kasus, mengajarkan bahasa Inggris didahulukan dibandingkan dengan bahasa ibu-nya. Nampaknya, banyak orang Indonesia, yang berharap, kata pertama yang terucap pertama kali dari bibir bayinya adalah “mom” bukannya “ibu”.

Fenomena sosial ini, akhirnya mengusik saya.

Benarkah, bahasa Inggris harus kita kuasai, agar bisa hidup dengan layak, dan berprestasi di masa mendatang ?

Benarkah globalisasi itu berarti mayoritas penduduk dan bangsa Indonesia berbicara dengan dominasi bahasa Inggris ?

Benarkah, kemampuan bahasa Inggris adalah penjamin gaji dan kehidupan yang layak ?

Benarkah bahwa status Indonesia sebagai bagian dari komunitas dunia ditunjukkan keaktifan penduduknya dalam berbahasa Inggris ?

Bagi saya, seluruh pertanyaan itu, memiliki satu jawaban, yaitu “TIDAK”.

Di benak saya, bahasa Inggris memang dibutuhkan di era globalisasi. Namun dalam tataran komunikasi antar bangsa dan jembatan antar budaya. Artinya, bahasa Inggris kita butuhkan untuk belajar aneka ilmu pengetahuan dari luar negeri, menjamin keberlangsungan perdagangan internasional, diplomasi mengenai kedaulatan negara, atau bahasa pengantar saat mendampingi turis asing saat berlibur di tanah air.

Tapi, manusia modern, semutakhir apapun, tidaklah mungkin selama 24 jam, 7 hari seminggu, harus terus berkomunikasi dalam tataran antar bangsa. Urusan lokal dan domestik, tetap membutuhkan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.

Penggunaan bahasa Inggris, saat kita berada di Indonesia, dengan orang Indonesia, tentang permasalahan Indonesia, dengan bahasa asing adalah sebuah inferioritas yang nyata.

Ternyata, setelah lebih dari 68 tahun merdeka, penjajahan masih melekat dalam pola sosial kemasyarakatan kita.

Ketika sebuah keluarga bisa berbahasa Belanda di era tahun 1930-an hingga 1960-an, maka status keluarga tersebut sedikit lebih tinggi dibanding keluarga kebanyakan. Penguasaan Bahasa Belanda di era kolonial hingga awal kemerdekaan, adalah sebuah status sosial, karena Bahasa Belanda adalah bahasa yang digunakan oleh kaum terpelajar, atau memiliki kedudukan tinggi, dan dekat dengan pemerintahan kolonial di masa itu.

Lupakah kita dengan semangat Sumpah Pemuda, yang bersumpah untuk Berbangsa, Bertanah Air dan Berbahasa Indonesia ?

JIka dulu kita merasa inferior dengan Belanda, sehingga harus mempelajari bahasa dan kebudayaannya agar merasa setara. Maka kini, inferioritas ditujukan kepada bangsa bangsa yang berbahasa Inggris.

Orang Indonesia, yang merasa dirinya modern, seakan tidak nyata modernitasnya jika tak menyelipkan beberapa kosakata Inggris dalam susunan komunikasi verbalnya. Orang pintar Indonesia, seakan kurang cerdas, jika lebih dominan berbahasa ibu-nya dibandingkan berbicara dengan bahasa Inggris.

Inilah bukti inferioritas yang nyata. Pola pikir bahwa asing lebih baik, sehingga harus dikuasai bahasa dan gaya hidupnya, agar kualitas hidup kita menjadi lebih baik adalah bukti masih lekatnya inferioritas sebuah bangsa bekas jajahan yang telah lebih dari enam dasawarsa memerdekakan diri.

Masyarakat Indonesia yang modern, seakan memiliki pola pikir bahwa orang yang lebih dominan bertutur dengan bahasa ibu-nya adalah orang yang tidak mampu mengikuti perkembangan jaman.

Secara pribadi, saya memang tidak mampu berbahasa Inggris secara sempurna sesuai dengan kaidah grammatical dalam American atau British English. Dan, saya cenderung mempertahankan aksen Jawa Timur-an, meski berdomisili di ibukota. Bahkan, jika saya tahu, lawan bicara adalah orang Jawa, dan seumuran, saya lebih merasa akrab, ketika berbincang dengan bahasa Jawa Ngoko.

Tapi, pola komunikasi saya ini, tidak didasarkan atas rendahnya kemampuan berbahasa Inggris. Toh, saya mempunyai sertifikat kemampuan berbahasa Inggris, yang bisa menjadi pelengkap pendaftaran untuk memperoleh beasiswa atau belajar di luar negeri. Saat berkunjung ke beberapa negara pun, saya mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat setempat, ketika berjumpa dengan orang asing, saya mampu bersenda gurau dengan lelucon dalam bahasa Inggris. Bahkan, dalam tesis, saya banyak memakai literatur asing. Dan Syukur Alhamdulillah di saat ujian tesis, saya memperoleh nilai “A” dan menunjang status sebagai Wisudawan Terbaik.

Bagi saya pribadi, bahasa Inggris harus dipergunakan sesuai dengan tempatnya. Dan, penguasaaan bahasa Inggris tidaklah ekuivalen dengan intelektualitas, terutama dalam bidang hal bersosialisasi dan berkomunikasi.

Mengapa anda mengasingkan diri dengan kondisi lokal, di tanah kelahiran sendiri ?

Bagi saya, bahasa Inggris memang mutlak dibutuhkan. Untuk mendalami dan memahami ilmu pengetahuan, atau mendapatkan informasi global. Tapi, tidaklah bijak seseorang menggunakan bahasa Inggris hanya untuk membicarakan sesuatu yang sifatnya lokal di tanah kelahirannya sendiri. Berbicara bahasa Inggris untuk berbincang atas sebuah konten lokal saat berada di negeri sendiri, adalah salah satu upaya anda untuk menjauhkan diri dari kearifan tanah kelahiran dan kampung halaman.

Ketika anda merasa malu atau rendah diri, karena menunjukkan konten lokal sebagai bagian identitas, nampaknya anda belum mampu mendeskripsikan jati diri anda dengan jelas dalam bersosialisasi.

Bukankah ada pameo “Think globally, Act locally” ?

Bukti kecerdasan dalam berbahasa dari seorang pemimpin global, yang mampu bersikap menghargai bahasa lokal dicontohkan dalam video dalam link berikut ini :

Ketika Bahasa Inggris dipakai untuk memperkaya wawasan, yang berasal dari dunia luar. Dan hasilnya tampak ketika mampu diaplikasikan untuk memperbaiki keadaan di tanah kelahiran, maka itulah hakekat intelektualitas dalam berbahasa.

Para pendiri bangsa, adalah orang orang bijak, yang mampu mendalami ilmu pengetahuan dari dunia luar, untuk memerdekakan bangsanya. Bukan untuk menciptakan jarak dengan rakyat yang tertindas oleh penjajahan.

Soekarno dan Hatta adalah dua orang dengan kemampuan berbahasa asing yang baik. Namun, saat memproklamasikan kemerdekaan untuk didengar seluruh rakyat, mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Apakah Sukarno dan Hatta terkesan pintar karena fasih berbahasa asing ? Bagi saya, “TIDAK” adalah jawabannya.

Sukarno dan Hatta dipandang sebagai seorang intelektual karena mereka mampu mendorong dan membagikan wawasan dalam taraf internasional, menjadi sebuah pemahaman yang mampu diresapi maknanya dalam balutan kesederhanaan.

Menguasai bahasa Inggris memang membutuhkan kecerdasan. Tapi, memakainya secara tepat membutuhkan kebijaksanaan.

“Orang cerdas adalah orang yang menyederhanakan sesuatu yang rumit. Orang yang ingin menipu cenderung memperumit sebuah kesederhanaan.”

Gunakanlah kecerdasan anda, untuk membantu menyederhanakan sebuah permasalahan. Bukan kecerdasan yang menimbulkan masalah karena kesalahpahaman.

Sekali lagi video di link ini, adalah sebuah masalah yang timbul, ketika anda berusaha menipu diri sendiri, atas sebuah kecerdasan, yang mungkin tidak anda miliki.

(tertawalah sebelum anda ditertawakan…)

One thought on “Bahasa dan Inferioritas…

  1. Kawan saya rekemen blog nie … katanya artikel walaupun agak simple..

    tapi penuh dengan info.. tahniah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s