Kajian Statistika Sumber Bencana…

http://http://news.detik.com/read/2013/05/25/071105/2255634/10/

Kasus suap atas impor daging sapi, sudah memasuki tahap peradilan. Peradilan Tindak Pidana Korupsi, sedang melakukan proses pembuktian siapakah yang sejatinya layak dan berhak untuk dihukum, karena melakukan pelanggaran, khususnya tindak pidana korupsi dan kolusi.

Suap daging sapi, menjadi bahan pembicaraan publik, karena, menurut bahasa praktisi media, SEMPURNA,karena memiliki kelengkapan dalam sebuah nilai berita. Sempurnanya kasus ini sebagai bahan tayangan dan ulasan adalah terlibatnya ketiga unsur, yaitu harta, tahta dan wanita yang terangkum rapi dalam balutan kasus ini.

Harta jelaslah bahwa kasus suap ini, bukanlah sebuah kasus yang terkait dengan uang receh. Tahta, terlibat di dalamnya karena kejahatan ini disangkakan kepada seorang presiden partai, bahkan seorang menteri pun harus rela menjejakkan kakinya di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk dimintai keterangan. Wanita, unsur terakhir yang akhirnya menjadi bumbu penyedap aroma kejahatan adalah aliran dana korupsi yang mengalir hingga ke 45 wanita. Mulai dari penyanyi, model, hingga mahasiswi yang berparas nyaris sempurna.

Dan, bagi saya, kasus ini amat lekat dengan kehidupan saya sebagai pekerja di sebuah media pemberitaan. Karena tulisan saya, mengenai kasus ini, memancing reaksi negatif dari beberapa petinggi dan simpatisan partai yang terkait. Syukurnya, kasus tidak menggelinding panas, dan dapat dinetralkan melalui sebuah diskusi hangat di medio Mei 2013.

Kasus suap, terlebih daging sapi, sejatinya menarik minat saya, untuk menganalisa. Terutama bagaimanakah kasus ini bermula. Dan, akar muasal kasus ini, tidak lain dan tak bukan, menurut saya adalah kesalahan dalam melakukan kajian statistika.

Para praktisi peternakan dan birokrat di instansi terkait, tentu masih ingat akan kegiatan Sensus Sapi dan Kerbau Nasional di tahun 2011. Sensus, sejatinya sebuah kajian statistika untuk mendapatkan data dan memetakan populasi.

Populasi Sapi dan Kerbau menjadi penting karena terkait memliki beberapa tujuan, yaitu :

  1. Berapakah jumlah total sapi dan kerbau di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga diketahui apakah jumlahnya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan daging nasional.
  2. Hasil sensus sapi dan kerbau adalah dasar untuk menentukan selisih antara pasokan dan kebutuhan. Sehingga pemerintah memiliki dasar yang kuat untuk menetapkan langkah demi menutupi kekurangan pasokan.
  3. Salah satu langkah untuk mengurangi pasokan adalah melakukan importasi daging. Jumlah daging impor haruslah sesuai dengan selisih, demi menghindari over supply, yang bisa menurunkan harga daging lokal.
  4. Harga daging nasional yang baik dari sisi ekonomi akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan peternak, dan merangsang nafsu beternak dari penduduk negeri.
  5. Ketika masyarakat Indonesia kembali kepada khittah nya sebagai bangsa agraris dengan menggeluti kegiatan peternakan dan pertanian, maka sektor ini semakin baik, sehingga ketergantungan kepada komoditas impor semakin menurun, dan program swasembada komoditas pertanian kembali diperoleh.

Namun, sepertinya ada yang salah terkait dengan pelaksanaan dan pengkajian Sensus Sapi dan Kerbau Nasional.

kesalahan pertama yang amat sangat mungkin terjadi adalah validitas data yang diperoleh. Sensus sejatinya adalah sebuah kegiatan statistika dengan cara melakukan penghitungan langsung, tanpa menggunakan proses penghitungan besar dan pemilihan metode sampel. Untuk memperkirakan dan menggambarkan sebuah populasi secara statistika, terdapat dua metode, yaitu sensus dan survey.

Keduanya hanya dibedakan atas sebuah hal, yaitu sampling. Sensus akan selalu melakukan penghitungan jumlah sampling yang sama, bahkan mendekati jumlah populasi. Sedangkan survey hanya memilih sebagian kecil dari populasi. Dan populasi yang terpilih sebagai sampel inilah yang akan dianalisis untuk menggambarkan bagaimanakah karakteristik sebuah populasi.

Pelaksanaan sensus, sejatinya memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kekurangan sensus adalah kebutuhan waktu dan dana yang besar. Namun, sensus memiliki kelebihan karena memiliki nilai error yang rendah, meski tak mungkin nilai errornya adalah 0.

Tapi, pelaksanaan sensus terlebih pada populasi hewan ternak, sejatinya membutuhkan aparat dan sumber daya manusia yang setidaknya memiliki pemahaman yang cukup atas ilmu peternakan dan kedokteran hewan. Salah satu hal yang mungkin menjadi error dalam pelaksanaan sensus sapi dan kerbau adalah pengetahuan petugas pengambil data dalam melihat kondisi kesehatan ternak.

Apakah dalam sensus sapi dan kerbau yang lalu, terdapat status kesehatan ternak, dan apakah pengambil data di lapangan mampu mengukur kondisi kesehatan ternak ? Sepertinya kok tidak, dimata saya.

Mengapa kesehatan ternak itu penting ? Karena seperti yang telah ditulis diatas, sensus membutuhkan waktu yang panjang, mulai dari perencanaan, pengambilan data, prosesing data, hingga rilis. Sangat dimungkinkan jumlah populasi riil dilapangan pada saat rilis dan pengambilan berbeda. Dan hal ini disebabkan matinya ternak setelah diambil data. Sehingga, ketika Badan Pusat Statistik merilis jumlah total sapi dan kerbau di Indonesia sebanyak 16 juta ekor lebih, mungkin di lapangan tidak sejumlah itu. Dan itu pasti. Karena itulah selalu terdapat nilai error atas sebuah hasil statitistik.

Tapi, sepertinya, selisih antara hasil rilis dan riil di kandang melebihi batas kesalahan, karena banyak sapi dan kerbau yang masih hidup saat di sensus, tapi sudah mati saat dirilis. Akibatnya, salah satu tujuan sensus, yaitu memperkirakan dengan tepat berapakah jumlah sapi dan kerbau total di Indonesia, seperti yang tersebut di poin 1.

Dan, tidak tercapainya tujuan di poin 1 akhirnya berimbas pada kesuksesan di poin 2, 3, 4 dan 5. Artinya, karena ketidakcakapan pelaksana pengambil data di lapangan, sensus tersebut menjadi sia sia bahkan memicu bencana, setidaknya bencana ekonomi dan politik.

Kesalahan kedua, yang memicu Bencana adalah kesalahan dalam mentransformasikan seekor sapi menjadi daging. Hal ini secara sederhana, dapat dijelaskan sebagai berikut.

Setiap ekor sapi, sejatinya memiliki berat hidup. Namun berat hidup ini tak bisa langsung diartikan sebagai berat daging. Karena tubuh sapi, tak hanya berisi daging (atau secara anatomi adalah otot). Ada organ sapi, yang harus dibuang, yaitu kulit, kaki bawah, kepala dan ekor. Hal yang bisa dimanfaatkan adalah otot dan jerohan, yang disebut dengan karkas.

Nah, berat karkas inilah, yang seharusnya juga diambil dalam pengambilan data di lapangan. Sehingga, sensus dalam rangka menghitung populasi ternak, tak hanya menghitung berapakah angka tepat dalam satuan ekor. Tapi juga perkiraan berapakah berat karkas yang bisa dihasilkan.

Dan, perkiraan berapakah berat karkas seluruh sapi dan kerbau di Indonesia seharusnya dilaksanakan di lapangan, tidak di dalam komputer di kantor pusat BPS. Karena, pelaksana sensuslah yang mengetahui bagaimanakah kondisi sapi, dan berapakah perkiraan berat karkasnya.

Pertanyaanya, apakah hal dilakukan secara tepat ? Sepertinya kok tidak.

Nah, sehingga menurut saya, ketika pemerintah, memutuskan untuk mengurangi angka impor daging sapi, berdasarkan hasil sensus sapi dan kerbau, sejatinya tidaklah mutlak salah. Kesalahan, terletak dalam penanggung jawab sensus.

Karena, telah terbukti sensus sapi dan kerbau, SALAH dalam MENGGAMBARKAN POPULASI SAPI DAN KERBAU di INDONESIA. Kesalahan ini, berimbas pada optimisnya pemerintah, bahwa swasembada daging bisa dilaksanakan di tahun 2014.

Kesalahan itu semakin nyata, ketika penurunan angka impor berimbas pada ketimpangan antara supplay dan demand daging. Akibatnya, harga daging pun merangkak naik. Peternak, memang di satu sisi, bahagia akan hal ini. Tapi, apakah hal ini berarti peternak sejahtera karena HARGA DAGING SAPI TINGGI ??? kok rasanya tidak….

Mengapa ?????

Karena meski beternak sapi, mereka juga membeli DAGING dalam HARGA TINGGI. Padahal ilmu nutrisi telah menggariskan bahwa daging adalah salah satu protein hewani penting dalam memenuhi gizi. Dan rendahnya konsumsi daging berarti rendanya status gizi. Adakah bangsa di DUNIA INI, yang SEJAHTERA namun STATUS GIZINYA RENDAH ??? Sekali lagi, RASANYA KOK NGGAK ADA…

Kesalahan dalam sensus inilah yang menyebabkan daging langka, karena pemerintah salah perhitungan mengenai pasokan daging lokal. Sehingga menurunkan daging impor. Akibatnya daging menjadi langka, dan kebijakan pemerintah pun dipertanyakan.

Penurunan kuota impor juga berimbas pada kegiatan para importir daging. Salah satu aset paling berharga dari para importir daging adalah storage. Dan, apalah artinya kapasitas storage 10.000 TON jika kuota impor mereka diturunkan menjadi 70.000 TON saja ???

Bukankah ini ancaman kerugian yang NYATA ???? Kerugian adalah perkara HARAM dalam BISNIS. Dan cara untuk menghindari perkara yang diharamkan, seringkali dilakukan dengan PERBUATAN HARAM pula. Dan, salah satu cara HARAM demi menghapus kerugian adalah menyuap aparat agar mendapatkan jatah impor sesuai dengan kapasitas storage.

Akhir kata, inilah realitas dan analisis saya atas kasus suap dan kelangkaan daging sapi. Saya menuliskan ini, dengan harapan menyadarkan kita semua akan pentingnya sebuah kajian dan analisis statistik. Dan pelaksanaan statistika sejatinya harus dilakukan oleh pihak dan aparat yang berkompeten. Melaksanakan sensus sapi dan kerbau dengan menerjunkan sumber daya manusia yang minim pengetahuan mengenai dasar dasar beternak dan kesehatan hewan adalah sebuah langkah utama yang menyeret pada invaliditas data.

Mungkinkah data yang invalid menghasilkan sesuatu YANG BERMANFAAT ????

Saya rasa kok TIDAK bagi sebagian besar manusia yang sehat jiwanya, tapi TENTU SAJA DIIYAKAN oleh MANUSIA MANUSIA YANG PANDAI DAN LIHAI MELIHAT CELAH DALAM SEBUAH KESALAHAN…… KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN…

Dan, tentu saja bukan PETERNAK yang mendapatkan BERKAH karena MAHALNYA harga daging…..

Selain koruptor yang sedang menjalani sidang, PIHAK YANG PALING DIUNTUNGKAN TETAP PARA MAKELAR DAGING DI LAPANGAN….

ANDA BOLEH TAK SEPAHAM, TAPI INILAH YANG SAYA PAHAMI…………

One thought on “Kajian Statistika Sumber Bencana…

  1. Bahan Renungan :
    Today’s message

    Sensus vs Sampel. Parameter vs Statistics. Sensus: mencacah/menghitung/menguji/memeriksa semua individu dalam populasi target. Sampel/Sampling: mencacah sebagian dari populasi (a subset of a population of interest by formal random sampling). Parameter: the true value of a population of interest. Statistics: an estimate of a population (point estimate). Does it sound good?. Greetings from Widara Kandhang Hermitage, Westprog. (emprit kaji keliling dunia at ppurnomo@yahoo.com.au)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s