Mensyukuri Nikmat Pendidikan

Bulan Mei telah tiba. Dua hari pertama di bulan kelima ini, merupakan dua hari penting, meski bukanlah hari libur. Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional, seharusnya membuka mata hati kita akan keadaan dan proses pembangunan di negeri yang kita cintai.

Isu utama labor’s day, seakan memiliki tema yang tetap, yaitu sejahterakan kaum buruh. Keadaan para buruh yang selalu didengungkan adalah data bahwa mereka merupakan kaum marjinal yang selalu terpinggirkan. Maka tak salah jika pada akhirnya kaum buruh akan selalu meneriakkan hak-nya untuk sejahtera.

Padahal bagi saya pribadi, buruh sejatinya adalah mesin produksi yang bernyawa. Oleh karenanya, buruh adalah sekelompok kaum yang akan selalu diatur tindak dan perilakunya oleh pemodal. Perbedaan utama antara buruh dan pekerja, bagi saya terletak dalam penjaminan kebebasan untuk mengungkapkan ide, pemikiran, dan gagasan dalam bekerja. Dan, buruh tak akan pernah difasilitasi untuk menyampaikan uneg-unegnya dalam kaitan pekerjaan utamanya, dimana nafkah utamanya berasal.

Sifat buruh yang terbatas fasilitasnya untuk mengembangkan kemampuan berpendapat, ternyata linier dengan kondisi pendidikan. Indeks pembangunan manusia negeri kita sangatlah memprihatinkan, dimana pendidikan menjadi salah satu tolak ukurnya.

Rata rata orang Indonesia, hanya bersekolah selama 5,5 tahun saja. Kondisi pendidikan inilah yang membuat pendidikan Indonesia secara rata rata hanya mampu mencetak kaum buruh.

Mengapa?

Karena pendidikan selama 5,5 tahun tak akan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya analisis yang terbiasa berpikir kritis dan memiliki kreatifitas.

Bagi saya, daya analisis tak pernah diajarkan secara formal di tingkat sekolah dasar, yang hanya berangsung selama 6 tahun saja. Secara formal, kemampuan analitik baru dikuasi oleh para sarjana, master, dan doktor. Bukti nyata bahwa para cendekia tersebut memiliki kemampuan daya analisa yang baik atau tidak, bisa ditilik dari skripsi, tesis dan disertasi mereka.

Nah, sayangnya, banyak sekali mahasiswa di negeri ini, sepanjang pengetahuan saya, menyianyiakan kesempatan mereka dalam memperoleh pendidikan tinggi. Cerminan bagainana mereka menghamburkan kesempatan dalam menempuh nikmat pendidikan adalah malasnya mereka dalam melakukan penelitian dan menyusun skripsi.

Kemalasan tidak hanya ditunjukkan oleh lamanya waktu, tapi bagaimana mereka mengerjakan penelitian, menunjukkan semangat mereka dalam belajar. Banyak sekali mahasiswa yang selama masa studi nya enggan untuk belajar berpikir kritis dan kreatif. Bukti nya jelas ketika mereka bingung menuliskan rumusan masalah dalam skripsi. Semakin bingung, membuat mereka tak punya amunisi cukup dalam mempertahankan rumusan masalah yang ditulis setengah setengah. Akibatnya bolak balik ganti judul setelah bimbingan. Percaya atau tidak, itulah faktanya.

Contoh lain, mahasiswa yang menyianyiakan karunia pendidikan adalah rendahnya semangat belajar pada saat kerja lapangan. Ini saya alami sendiri ketika kantor saya menerima mahasiswa magang. Mahasiswa tersebut seakan menutup mata akan banyak hal baru yang semestinya dipelajari. Akibatnya jelaslah sudah, dia bingung mau menuliskan apa dalam laporan magangnya. Padahal dia adalah mahasiswa semester akhir program jurnalistik, dan saya bekerja di bagian pemberitaan. Seharusnya dia bisa membuat sebuah paket berita sebagai bukti sekaligus karya magangnya. Tapi sayangnya dia lebih senang berlindung di balik kata kata, “saya nggak bisa mas, kalo bikin naskah. Palagi program, ini kan berat banget kontennya, ga mampu saya.”

Inilah potret anak muda kita? Menyerah, dan gampang banget bilang ga bisa, padahal mencoba saja belum.

Ternyata, sepertinya, memang beginilah potret anak muda negeri kita. Malas berpikir kreatif, ogah menggali potensi diri, tapi maunya hidup enak. Mengapa saya berani menyimpulkan hal ini ? Karena saya mendengarkan sendiri bagaimana pandangan mereka, ketika berbicara dunia kerja.

Anak anak muda itu, ternyata mendambakan hidup enak, tapi ogah kerja keras. Hal ini telah saya tulis sebelumnya dalam judul Daya Tawar Fresh Graduate.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan opini, bahwa betapa meruginya mereka yang belajar hanya mengejar nilai semata tanpa mengasah kemampuan analisa dan berpendapat serta berlatih menjadi seorang problem solver selama duduk di bangku kuliah.

Selama mahasiswa kita masih berpikir bahwa kuliah hanyalah urusan IPK, dan skripsi hanyalah sebuah persyaratan untuk ikut wisuda, maka setelah lulus, mereka akan terdepan dalam antrian untuk mengisi lowongan menjadi buruh.

Buruh dan pekerja tidak dibedakan oleh gaji, tunjangan, jabatan, jumlah atasan dan pengukuran produktifitas. Pekerja di mata saya, adalah seorang yang dijamin kenyamanannya dalam mengungkapkan ide, gagasan, dan pemikiran dalam menjalankan pekerjaannya.

Oleh karenanya, pekerja berhak menyandang status professional ketika mampu menunjukkan kredibilatas dan kapabilitasnya dalam memecahkan aneka masalah yang dihadapi. Dan tentunya seorang professional akan selalu mampu bekerja dalam sebuah tim, karena pekerjaan terletak dalam lingkup sosial seorang manusia.

Dan, bagi saya seorang buruh tak akan bisa menjadi sejahtera, karena tak ada penjaminan kenyamanan dalam berpendapat ketika bekerja.

Akhir kata, siapkah anda menjadi buruh atau siap menjadi seorang pekerja, bisa tampak dari bagaimana anda belajar di saat ini. Jika benak anda hanya diisi bahwa diskusi dengan pembimbing adalah hal yang menakutkan karena lemahnya anda dalam menguasai rumusan masalah, hipotesis dan menyusun pustaka, saya pesimis anda akan lulus dengan menyandang sebagai sarjana yang siap bekerja professional….

Semoga saya salah…

Sebagai acuan, mungkin anda bisa simak dan hayati lagu Petuah Bijak dari Dewa 19…

tataplah kawan lain…

menjilati hidup ini…

siapkan bingkai diri…

siapkan masa depanmu…

Bisa kuliah itu kenikmatan yang luar biasa…

tapi kalo lulus hanya menjadi seorang buruh kok rasa rasanya menghianati tetesan pembayar uang spp anda…

menjadi wisudawan adalah kebanggan bagi bapak ibu kita…

tapi, menjadi orang yang mampu mengekspresikan kemampuan analisa yang dikuasai, jauh lebih berguna bagi masyarakat…

One thought on “Mensyukuri Nikmat Pendidikan

  1. terima kasih atas motipasinya semoga bermanfaat bagi kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s