Statistika, Kebenaran dan Paganisme

Kebenaran di masa kini sejatinya tidak mutlak.

Mengapa???

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka kebenaran yang berlaku adalah kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sifatnya universal. Artinya kebenaran ilmiah dapat dibuktikan dalam bentuk teori, dan dapat diuji dengan penelitian serta penghitungan statistik.

Kebenaran ilmiah sejatinya merupakan kebenaran yang dianut oleh sebagian besar manusia. Dan, kebenaran ilmiah berlaku kepada siapapun, tak memandang status ke-Nabi-an, kekayaan, jabatan dan pangkat. Karena sifatnya itu, maka kebenaran ilmiah terbuka untuk didiskusikan dan menjadi lahan subur untuk perdebatan. Tak heran jika pada akhirnya kebenaran ilmiah akan selalu haus akan penyangkalan dan dinamis, berubah sesuai dengan dinamika populasi manusia.

Jembatan untuk membuktikan sebuah kebenaran ilmiah adalah penelitian. Kebenaran yang berlaku di era digital sejatinya merupakan sebuah kebenaran yang dibuktikan dengan sebuah analisa statistik melalui sebuah uji hipotesis. Seorang mahasiswa strata 1 (S1) sebenarnya sedang menjalani proses pembuktian kebenaran ilmiah lewat proses penyusunan skripsi. Lain halnya dengan kandidat Doktor. Para mahasiswa (S3) tersebut sedang mencari sebuah teori baru, untuk menyempurnakan kebenaran yang ada atau justru menuliskan sebuah kebenaran baru.

Proses pembuktian kebenaran secara ilmiah sejatinya harus dan wajib memperhitungkan angka yang memiliki sebutan tingkat kepercayaan dan presisi. Keduanya memiliki sifat dasar yang sama, yaitu tidak pernah mengenal istilah “mutlak benar” atau “tepat” 100%.

Lain halnya dengan kebenaran non ilmiah. Bagi saya pribadi, hanya satu hal yang termasuk kebenaran hal non ilmiah, yaitu Agama. Keimanan, keyakinan dan kepercayaan yang sifatnya Ilahillah memiliki tingkat kepercayaan dan presisi mutlak, yaitu 100%.

Pemahaman bahwa Agama adalah kebenaran yang mutlak hanya bisa dianut oleh kaum yang percaya akan adanya Allah SWT Yang Maha Segalanya. Allah SWT yang Maha Sempurna adalah sumber dari segala sumber kebenaran. Nilai nilai kebenaran Ilahillah ini diturunkan kepada umat manusia ciptaan Sang Ilahi agar kehidupan mereka lurus dan tidak tersesat.

Agama sejatinya terangkai atas dua kata, yaitu A dan Gamos. A berarti tidak, sedangkan Gamos berarti sesat. Sehingga jelaslah sudah kebenaran agama adalah sebuah kebenaran yang diturunkan oleh Sang Pencipta agar kehidupan manusia tidak tersesat.

Kebenaran agama ini harus diyakini diturunkan dari Sang Pencipta melalui perantara Nabi dan Rasul. Dan, sebagai umat muslim saya percaya bahwa Islam adalah penuntun hidup dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir.

Seperti yang telah saya tuliskan, kebenaran yang disampaikan dan dituliskan oleh manusia biasa, sejatinya merupakan kebenaran ilmiah yang telah teruji secara analisis statistik. Akibatnya, orang yang menganggap kebenaran ilmiah benar 100% adalah kaum paganisme modern. Karena mereka jelas jelas menafikan kuasa Allah SWT sebagai pembenar segala sesuatu yang sifatnya duniawi. Benar 95% berarti membuktikan besarnya kuasa Allah di bumi. Karena meski hanya memiliki porsi 5%, Allah bisa meruntuhkan teori yang porsinya 95%. Percaya 100% terhadap analisis statistik berarti tak mempercayai kekuasaan Allah terhadap segala sesuatu yang ada di bumi.

Mempercayai sebuah kajian statistika secara 100% berarti menafikan kuasa Allah SWT sekaligus memandang kebenaran statistika adalah kebenaran yang mutlak. Sehingga, menurut saya orang dan kaum yang mempercayai sebuah data statistika 100% adalah pemuja kebenaran duniawi sekaligus mendustakan Kuasa Allah SWT atas segala sesuatu yang ada di bumi. Bagi saya, merekalah kaum pagan modern.

Tetapi, orang yang tidak percaya sama sekali terhadap statistik, menurut saya mencoba menjadi Nabi dan Rasul di era digital. Karena ia memaksakan kebenaran pribadi kepada seluruh umat manusia layaknya Nabi dan Rasul. Kebenaran wahyu Ilahi yang diserukan oleh Nabi dan Rasul-NYA adalah kebenaran yang mutlak, yang tentu saja tak perlu diperdebatkan dan berlaku serta benar bagi seluruh umat manusia.

Seseorang yang mencoba merumuskan sebuah kebenaran dan kemudian menyerukannya kepada seluruh umat manusia, tanpa adanya kajian ilmu statistika dan penelitian ilmiah adalah seseorang yang mencoba menjadi Nabi dan Rasul setelah Rasulullah SAW.

Oleh karena itu jika ingin menuliskan sebuah kebenaran, maka seorang cerdik cendekia harus mampu membuktikan kebenaran analisis statistiknya. Kajian statistika dalam penelitian ilmiah adalah sebuah langkah untuk menguji kebenaran dalam tataran populasi manusia. Dan, sekali lagi, kebenaran ilmiah yang termutkhir sekalipun tidak berlaku mutlak, alias benar 100%.

Bagi saya, dalam menyikapi sebuah kajian statistika dan melakukan kegiatan ilmiah, kita wajib mencermati nilai kepercayaan dan presisinya. Mengetahui kedua hal tersebut, membuat kita bijak dan mampu memahami sebuah permasalahan yang ada dalam populasi manusia, serta memahami besarnya pengaruh yang tak terukur, yang disebut dengan KUASA ALLAH SUBHANAHUWATAALA, Sang Maha Kaya Lagi Maha Mengatur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s