DAYA TAWAR FRESH GRADUATE

Bulan November, akan segera berakhir. Dan, di tanggal 30 nanti, Insha Allah, tepat 6 bulan saya resmi menyelesaikan masa kuliah magister saya. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa menuntaskan seluruh tugas dan beban studi. Bagi saya, kuliah magister adalah sebuah pelarian sementara dari dunia kerja. Dan, ternyata, bekerja dan belajar itu, adalah dua hal yang berbeda, bagaikan bumi dan langit, bak air dan api. Tapi, bekerja dan belajar pada dasarnya saling melengkapi dan membutuhkan, tidak untuk saling menggantikan.

Bekerja, pada dasarnya adalah kebutuhan setiap manusia di dunia ini. Karena, hanya dengan bekerja seseorang mendapatkan upah, gaji atau penghasilan untuk menghidupi diri sendiri. Dan, untuk dapat bekerja dengan baik, seseorang haruslah terlatih. Tentu saja, proses belajarlah tempat untuk memperoleh keterampilan itu. Belajar disini memiliki sebuah arti yang luas. Tidak terbatas pada institusi, lembaga, gelar, dan kurikulum. Pada dasarnya, belajar adalah proses untuk mengerti sebuah hal baru. Dan, belajar, mutlak membutuhkan guru dan media. Tidaklah mungkin kita mengerti akan sebuah pengetahuan tanpa adanya guru yang membimbing dan media, baik berupa bacaan maupun sebuah sesi praktikum.

Berbicara mengenai bekerja, saya ingin menuliskan opini dan pendapat saya, mengenai seluk beluk dunia kerja, sepanjang yang saya ketahui. Pertama, bolehlah dikata, saya mulai bekerja pada usia 18 tahun. Dan, pekerjaan pertama saya, adalah sebagai seorang guru. Meski hanya memberi pelajaran tambahan alias sebagai guru les, saya sangat bangga akan pekerjaan pertama saya itu. Karena, dari pekerjaan pertama saya itu, saya mendapatkan banyak hal. Uang saku, pengalaman, kesabaran, trik mengambil hati anak SD, hingga kemampuan untuk mencicil sepeda motor telah saya dapatkan dari profesi sebagai guru les, yang saya jalani selama 5 tahun.

Tapi, pelajaran terbesar yang saya dapatkan ketika bekerja sebagai seorang guru les, adalah arti penting dedikasi. Bagi anda, mungkin meremehkan arti dedikasi seorang guru les, apalagi guru les amatir seperti saya. Tapi, tetap fokus untuk mengajar 3 anak di 3 rumah berbeda, dalam kurun waktu 5 jam, padahal di keesokan hari ada uts, bukanlah hal yang mudah, terutama bagi saya. Bekerja, disambi kuliah, mungkin terasa sepele, remeh, dan gampang. Tapi, sekali lagi, tidak bagi saya.

Murid pertama saya, adalah seorang anak SD yang baru menginjak kelas 1. Dan, ternyata, mengajarkan bahwa 2 + 2 = 4, kepadanya bukannya hal yang mudah. Dan, saya gagal menjadi guru yang baik baginya. Indikasinya jelas. Tak lebih dari 2 bulan, orang tua si bocah memutuskan untuk tidak lagi mengundang saya ke rumah mereka.

Kegagalan, bagi pemula adalah sebuah keharusan (bagi saya). Karena, tidaklah mungkin seorang bayi akan langsung berjalan 100 langkah. Semua membutuhkan permulaan. Dan (selalu) diawali dengan kegagalan. Kembali ke masalah guru les, saya memang gagal bekerja sebagai guru les, untuk MURID PERTAMA. Tapi, 2 tahun kemudian, saya telah meraih MURID KELIMA. Kegagalan di murid pertama, membuat saya mengerti, bahwa tidak ada pekerjaan yang MUDAH. Semua pekerjaan memiliki tingkat kesulitan. Semuanya membutuhkan PENGETAHUAN. Dan semua membutuhkan PROSES untuk terlatih mengerjakannya.

Pekerjaaan akan MUDAH dilakukan jika kita berPROSES untuk menambah PENGETAHUAN, maka kemungkinan besar, kita telah menjadi seorang pekerja yang TERLATIH, dan pantas untuk mendapatkan BAYARAN. Contoh nyata, dari semua itu adalah, ketika saya memulai karir sebagai guru les, saya dibayar 8.000/pertemuan. Dan, orang tua murid pertama saya, dengan tegas menyatakan, bahwasannya, di waktu itu, saya TAK PANTAS menerima bayaran sebesar itu. Tapi, 3 tahun kemudian, Alhamdulillah, 500.000 rupiah per bulan, pasti saya dapat. Dan, yang tak ternilai, pada dasarnya (menurut saya) adalah ditunjukkannya rasa PUAS akan hasil kerja saya.

Dan, apakah tolak ukur kepuasan pemakai jasa kita ? Salah satunya adalah kepercayaan mereka memperkerjakan kita. Tak tergantikannya diri kita dalam sebuah bidang pekerjaan, adalah salah satu bentuk kepercayaan dari pemakai jasa. Tingkatan lebih lanjut dari kepuasan pemakai jasa kita adalah REKOMENDASI yang ia berikan atas kinerja kita. Dan, saya rasa, saya sukses menjadi guru les. Karena, setelah 2 tahun mengajar door to door, saya tak perlu repot mencari murid baru. Justru mama mama itu, yang menelpon, meminta saya untuk mengajar buah hatinya. Dan yang tak boleh dilupakan, adalah saya yang menentukan berapa HARGA yang pantas akan jasa saya.

Tulisan diatas, tak bermaksud untuk memamerkan, atau menyombongkan diri (apa juga yang perlu disombongkan?). Saya ingin memberi sebuah pengetahuan sederhana saja, khususnya bagi para fresh graduate yang baru saja menyelesaikan masa studinya, dan sedang mencari kerja.

Bagi saya, daya tawar tertinggi dari seorang yang baru saja diwisuda di dunia kerja terletak pada SEMANGAT. Ya, hal itulah, satu satunya yang boleh dikata dibutuhkan oleh para pemakai jasa tenaga kerja. Dan, saya rasa, itulah SATU SATUnya hal yang bisa DIPENUHI oleh tenaga FRESH GRADUATE.

Bagi anda, yang sudah lebih dari 5 tahun bekerja di bidang yang sama, saya rasa, sepakat, bahwa pada dasarnya OUPUT yang dihasilkan dunia PENDIDIKAN tidak SELARAS dengan INPUT yang dibutuhkan oleh DUNIA KERJA. Gap itu, pada dasarnya terjadi, karena pendidikan yang baik, bukanlah sebagai MESIN pencetak TENAGA KERJA. Tetapi, dunia pendidikan telah menujukkan PERANnya, ketika para dosen dan guru besar di KAMPUS mampu mengubah POLA PIKIR. Sederhana saja, sebenarnya, pola pikir yang harus ditanamkan adalah semua keberhasilan itu membutuhkan pengetahuan, dan untuk meraihnya dibutuhkan sebuah proses. Tak hanya itu, dunia kampus harusnya mampu mengajarkan kepada lulusannya seni untuk MENJUAL keterampilannya. Tapi, sepertinya idealisme itu, tak akan pernah terjadi. Sehingga, tak heran, jika akhirnya terjadi gap antara lulusan kampus dengan standar penerimaan karyawan.

Kesenjangan seperti yang dimaksud diatas, akhirnya dijembatani dengan sebuah PENDIDIKAN dan PELATIHAN bagi para karyawan baru. Banyak perusahaan, khususnya perusahaan dengan struktur organisasi yang kompleks dan memiliki banyak unit kerja, membuat sebuah program yang biasanya diembel embeli istilah TRAINING and DEVELOPMENT PROGRAM. Program ini, pada dasarnya adalah salah satu jembatan, agar para lulusan baru itu, mampu menyesuaikan diri dengan dunia kerja. Dan, yang paling kentara dari sebuah Development Program, adalah tak banyaknya kesempatan NEGOSIASI GAJI. Upah dan gaji para karyawan, sejatinya disesuaikan dengan KONTRIBUSI sang PEKERJA. Maka wajarkan, jika gaji fresh graduate itu berada di level dasar dibandingkan karyawan yang telah mengabdikan diri lebih dari 1 tahun? Minimal, ada kontribusi selama 1 tahun, yang tidak dimiliki oleh karyawan baru.

Inti dari tulisan ini, sebenarnya adalah penjelasan saya, kepada seorang adik kelas yang baru menyelesaikan masa studinya. Dari sisi gelar, memang dia telah menyandang gelar Master. Tapi, sayangnya statusnya masih fresh graduate. Dan, yang saya sayangkan adalah rendahnya SEMANGATnya untuk mendapatkan PENGETAHUAN yang dibutuhkan untuk bekerja. Mengapa saya berani memutuskan hal itu ? Karena dia telah mengungkapkan sebuah penyataan yang kurang lebih seperti ini,

“Aku nek kerjo nang Klinik gak wani Mas. Soale kan durung pengalaman. Tapi, aku pengen kerjo sing iso oleh penghasilan besar”.

Jadi, bisa dikata, dia merasa nggak punya kemampuan untuk bekerja, tapi mengharapkan penghasilan besar ? Dan bagi saya itu adalah sebuah kemustahilan. Dan alasannya, sudah saya jelaskan diatas………………

Akhir kata, saya cuman pengen bilang, terutama bagi para fresh graduate…… Kerja itu nggak gampang, dan untuk dapat gaji besar itu butuh proses…. Meski gak gampang, kalo kita mau dan semangat untuk menguasai sebuah pengetahuan, kemungkinan besar, kita mampu menguasai perkerjaan apapun…. dan, tentunya, jika sudah ahli di bidangnya, berapapun gaji yang kita mau, pasti kita bisa dapatkan…. tapi, tentu saja, semuanya butuh proses…. butuh waktu…. sama halnya dengan dirimu dulu…. bukankah kamu harus belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, sebelum akhirnya bisa berlari…. Semua orang,pengen GAJI yang besar…. tapi…. apa iya, ada orang yang mau menggaji besar pada seseorang yang belum terlatih dan teruji kehandalannya??????

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s