Linieritas Kontes Ternak dan Swasembada Daging Sapi

Beberapa hari ini, posting teman teman di salah satu media sosial, didominasi persiapan menyukseskan kontes ternak yang akan diadakan di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Bahkan hari ini, saya melihat salah satu kandidat calon juara, seekor sapi pejantan jenis Siemental, yang kemungkinan besar merupakan ternak unggul hasil inseminasi buatan. Meski saya adalah alumni Fakultas Kedokteran, hingga saat ini, saya belum pernah secara langsung datang dan menyaksikan pagelaran kontes ternak.

Salah satu hal yang menarik untuk saya tuliskan adalah linieritas kontes ternak, baik tingkatan kabupaten, propinsi, bahkan nasional, dengan program swasembada daging. Swasembada daging, khususnya daging sapi adalah salah satu program Departemen Pertanian. Program ini pada dasarnya adalah salah satu kunci pemecahan masalah ketergantungan negeri kita terhadap daging impor. Sebuah portal berita, melansir angka impor daging sapi pada tahun 2011 mencapai 140.000 TON. Sedangkan tahun ini, kuota dibatasi hanya sebesar 85.000 TON. Kebijakan penurunan kuota tersebut, menurut saya, untuk meningkatkan daya saing daging lokal. Dan, efeknya memang terasa, harga daging di ibukota pernah mencapai level 85.000 rupiah per kilogram. Tetapi, apakah tingginya harga daging berimbas positif terhadap kesejahteraan peternak? Belum ada yang secara pasti mengiyakan.

Swasembada daging sapi, ditinjau dari sudut pandang akademik, menurut saya, adalah sebuah program yang sangat realistis. Negeri kita, memiliki dukungan sumber daya alam dan manusia, yang secara teori mampu mewujudkan program tersebut. Mayoritas penduduk Indonesia, adalah petani dan peternak, sehingga tata cara beternak tidaklah asing bagi sebagian besar masyarakat kita. Selain itu, terdapat ribuan dokter hewan dan praktisi peternakan yang profesional dan kompeten serta terlatih, sehingga secara ideal mampu memberikan pendampingan kepada para peternak, untuk memaksimalkan kapasitas produksi ternak mereka.

Indonesia, sebagai negeri yang selama 3 tahun terakhir terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 6% per tahunnya. Pertumbuhan tersebut, pada akhirnya berimbas pada tingkat kesejahteraan penduduk, sehingga, pola makanan merekapun menjadi lebih membaik. Dengan jumlah penduduk mencapai 230 juta, dimana 50 juta diantaranya adalah kelas menengah, menyebabkan permintaan daging sapi terus menerus meningkat tiap tahunnya. Kelas menengah, adalah kelompok masyarakat yang secara langsung menikmati pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kelompok ini, adalah kelompok dengan pendapatan antara 3 hingga 10 juta per bulan. Besarnya potensi pasar bagi kelompok ini, ditandai dari meningkatnya permintaan mobil dengan kapasitas mesin antara 1000 – 1300 cc, gaya hidup modern, perumahan dengan luas tanah antara 100 – 200 m persegi, dan tentu saja, kebutuhan untuk mencukupi protein hewani. Salah satu bukti dari tingginya permintaan protein hewani di kalangan kelas menengah adalah laris manisnya penjualan kebab di pinggiran jalan, dan penuhnya restoran siap saji, yang mayoritas menyediakan panganan olahan daging ayam dan sapi.

Dengan latar belakang ini, maka sudah seharusnya sektor peternakan sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan protein hewani mendapatkan perhatian khusus. Stabiltas dan keamanan pangan, tidak hanya ditujukan pada beras, gula dan kedelai. Keseimbangan permintaan dan kebutuhan daging sapi juga termasuk ke dalam komoditas pertanian yang memiliki peran signifikan dalam status ketahanan pangan nasional, sehingga muncullah program swasembada daging sapi.

Meski secara akademis sangat rasional, ternyata swasembada daging menjadi angan dan impian belaka dalam realita di lapangan. Produksi ternak lokal, belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski harga jual daging sapi meningkat, kesejahteraan peternak tak serta merta meningkat. Hal ini pada akhirnya, tidak mampu menjadi faktor penarik, bagi para masyarakat, khususnya generasi muda untuk menggeluti profesi sebagai petani dan peternak. Tidak adanya jaminan kesejahteraan di masa depan, adalah salah satu alasan bagi mereka untuk meninggalkan dunia bercocok tanam dan beternak. Generasi muda kita, lebih suka menggeluti profesi sebagai ahli perminyakan, teknologi informasi dan dokter. Ketiga sektor tersebut, dipandang memberikan gambaran masa depan lebih baik dibandingkan sektor pertanian dan peternakan.

Dengan kondisi seperti ini, maka swasembada seakan menjadi angan angan, yang entah kapan akan bisa diwujudkan. Padahal, secara logika, kita bisa mewujudkannya. Maka, dimanakah letak masalahnya ?

Swasembada daging sapi, hanya akan terjadi, jika kita mampu meningkatkan efisiensi produksi ternak yang ada. Efisiensi adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan ekonomi. Swasembada bisa berhasil jika pola pikir kita bertumpu pada peningkatan hasil produksi daging, bukan peningkatan jumlah ternak sapi secara signifikan. Swasembada daging sapi, seharusnya bisa berkiblat pada pola produksi ayam pedaging dan petelur di tanah air. Efisiensi produksi secara nyata tampak pada rasio food consumption rate (FCR) ayam pedaging yang mencapai 1,6 dan kemampuan ayam petelur untuk bertelur hingga 310 butir per tahunnya. Dan menurut saya efisiensi itu bisa didapatkan karena ada :

  1. Bibit Unggul
  2. Pakan berkualitas tinggi
  3. Tenaga ahli pendamping peternak
  4. Budaya korporasi dalam beternak

Keempat faktor inilah, yang menurut saya, mampu menjadikan beternak ayam menjadi efisien. Peternakan ayam di negeri Indonesia, harus diakui bisa menjadi besar, karena digerakkan oleh mesin mesin produksi perusahaan peternakan, yang hampir 70% merupakan perusahaan asing. Bibit unggul, pakan dan tenaga ahli disediakan oleh perusahaan, sedangkan peternak hanya menyediakan kandang dan anak kandang. Budaya korporasi akan mendorong agar seluruh proses, menjadi efisien seiring dengan moto “pendapatan maksimal dengan pengeluaran minimal”. Dengan moto ini, dipakai oleh semua lini, termasuk dalam lini research and development (RND). Perusahaan menganggap gelontoran dana dalam bidang RND adalah salah satu upaya minimal, untuk meraih keberhasilan maksimal. Reserach yang terpola dan sesuai dengan kebutuhan pasar, adalah kunci untuk mendapatkan bibit unggul dan pakan berkualitas. Akibatnya bisa dirasakan hingga kini, bibit unggul dan pakan berkualitas terus menerus muncul seolah tanpa terputus.

Jika pola pengembangan sapi pedaging meniru apa yang terjadi pada peternakan unggas, maka, bukan mustahil ternak yang produktif, tidak hanya bisa dijumpai dalam ajang kontes ternak, yang sepertinya hanya menjadi ajang rutin untuk menunjukkan perkembangan peternakan yang semu. Dan, intinya, swasembada daging, hanya akan terjadi jika budaya BIROKRASI yang RUMIT, BERTELE TELE dan lebih mengedepankan HASIL dapat diminimalkan.

Akhirnya seharusnya Kontes Ternak dan Swasembada Daging seharusnya memiliki pola yang linier, artinya rutinitas kontes ternak yang semakin baik, juga menunjang proses menuju swasembada daging. Sehingga kontes ternak bukan hanya memamerkan beberapa ekor ternak unggul, tetapi merupakan cerminan dari seluruh populasi ternak di suatu daerah. Semoga negeri kita bisa berswasembada daging, beras, dan aneka komoditas pertanian lainnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s