Memperlakukan Sebuah Pemberian…

Jikalau ada seseorang yang tidak memiliki hubungan darah, tetapi dia dekat dengan kita, pasti itu adalah teman kita. Tetapi, teman, ternyata memiliki banyak pengertian dan jenis. Istri atau suami adalah teman hidup kita. Sahabat adalah teman terdekat untuk mencurahkan kegalauan, dan membagi kebahagiaan. Pacar, adalah teman dekat, dimana kita akan mencurahkan kasih sayang, dan akan merasa sangat sedih ketika kita harus berjauhan dengannya. Tentu saja, ada banyak lagi arti teman bagi anda.

Tentang teman, saya punya banyak pengalaman dengan mereka. Terlebih, siang tadi, baru saja hadir di acara Halal bi Halal dengan alumni SMA 5 Surabaya. Saya jadi sadar, bahwa ternyata, ada banyak teman yang menemani hidup saya dan kita semua. Tetapi, tentu saja, kita tak hafal dan ingat dengan semua teman yang pernah kita kenal. Tapi, tentu kita ingat pada teman mampu menanamkan sebuah memori di ingatan kita, karena perbuatannya, perkataannya, sikapnya atau pemberiannya.

Menyinggung masalah pemberian, saya tidak akan pernah melupakan dua orang teman saya, yang telah memberi saya dua potong sarung. Dan, keduanya, bisa dikata adalah pacar saya, di masa lalu. Keduanya, adalah sosok yang membuat saya bahagia, tapi sayangnya, saya pada akhirnya melukai perasaan mereka, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi benci, jengkel, mangkel, dan aneka bad feelings lainnya.

Saya menyesali perbuatan saya yang telah melukai perasaan mereka. Dan, semoga luka hati mereka, telah sembuh, dan keduanya bisa melanjutkan hidup dan pada akhirnya bertemu dengan orang yang tepat dan terpilih untuk membahagiakannya hingga maut memisahkannya.

Ternyata, dari beberapa mantan saya, hingga saat ini, saya tak akan lupa dengan kedua gadis yang memberikan saya sarung. Kedua sarung itu, adalah sarung yang saya pakai ketika saya shalat selama saya merantau di Jakarta. Kebetulan perantauan saya di Jakarta, terdiri atas dua bagian.

Bagian pertama terjadi pada bulan Juni 2007 – Agustus 2010. Dan bagian kedua, terjadi pada bulan Juni 2012 hingga hari ini. Mengapa ada jeda, karena selama bulan September 2010 – Mei 2012 saya kembali ke kota kelahiran saya, untuk melanjutkan studi.

Kebetulan awal masa perantauan saya, tak memiliki jarak yang jauh dengan hari ulang tahun saya. Dan, ketika saya berulang tahun yang ke 24, pacar saya saat itu, memberi saya sebuah kado sepotong kain sarung. Dan, pada akhirnya, kain sarung itu, selalu saya pakai untuk shalat sepanjang masa perantauan saya di Jakarta. Meski hubungan kami tidak berlangsung dengan baik, kain sarung itu, masih ada, dan tersimpan. Melalui tulisan ini, saya pada akhirnya bisa menerima dengan baik, pesan si dia, saat memberikan sarung itu, “Semoga kamu selalu ingat pada-NYA, dan ingat aku ya…”. Perkataan dan ucapannya memang telah terjadi lebih dari lima tahun yang lalu. Dan, kini saya bisa menerima sepenuhnya ucapannya itu. Sarung itu, pada akhirnya mampu mengingatkan saya untuk harus menunaikan ibadah pada-NYA. Dan, pada akhirnya juga tetap mengingat memori saya kepada sang pemberinya. Dan, Alhamdulillah, kini, sang pemberinya, tepat di hari ini, menggelar resepsi pernikahannya, setelah minggu lalu melaksanakan akad nikah.

Hubungan saya dengan pemberi sarung itu, memang tak berlangsung baik, terutama setelah kita tak lagi pacaran. Tetapi, ketika dia memutuskan untuk mengundang saya di resepsi pernikahannya, saya anggap, dia telah melupakan permasalahan dan luka di hatinya, dan telah menempatkan saya, sebagai salah seorang rekan, kenalan atau (semoga) temannya. Akhirnya saya lega, ketika dia menikah dan mengundang saya. Berarti pada akhirnya dia berhasil bertemu dengan kebahagiaan. Semoga pernikahannya langgeng dan mampu membentuk keluarga yang dilandasi dengan cinta. Aamiin. Sayangnya karena keterbatasan waktu saya tak bisa memenuhi undangan itu.

Ketika saya kembali lagi ke Jakarta, pada di awal Juni lalu, maka saya memulai lagi perantauan saya di ibukota. Jika di awal perantauan yang pertama, saya hanya membawa bawaan yang cukup dikemas dalam sebuah koper, maka kini, harus bertambah dengan kargo seberat 65 kg. Sehingga, bisa dikata, bekal merantau saya kali ini, lebih lengkap, dibanding lima tahun yang lalu. Tapi, sayangnya, ada dua benda yang terlupa, yaitu sarung dan sajadah. Alhasil, seminggu pertama, intensitas saya ke masjid di depan kosan sangat tinggi, terutama saat subuh dan isya. Kondisi ini, pada akhirnya saya ceritakan pada pacar saya (saat itu), dan pada akhirnya, dia memberikan sepotong sarung dan sajadah. Bagi saya, ini lucu. Biasanya, saat ijab kabul sang suami akan memberikan mahar berupa seperangkat alat shalat pada istrinya. Tapi, ini malah kebalikannya, pacar saya memberikan seperangkat alat shalat pada saya.

Pada akhirnya, di masa perantauan saya, hampir setiap hari, saya menggunakan sarung dan sajadah itu, hingga saat ini, meski hubungan kami telah berakhir di minggu yang lalu. Bagi saya, pemberian adalah sebuah ungkapan perhatian dan atensi seseorang terhadap kita. Dan, sudah seharusnya, menurut saya, kita menghargai pemberian itu, dengan cara mempergunakannya dengan semestinya, ataupun menyimpannya dengan baik. Alasan saya sederhana saja, karena, ketika memberikan hadiah, kado atau bingkisan, tentu orang itu memberikannya dengan perasaan dan sikap yang baik, dan tentu saja, kita menerimanya dengan baik. Meski di kemudian hari hubungan saya dengan sang pemberi berubah drastis dibandingkan pada saat ia memberikan kado itu, saya akan tetap menyimpan dan mempergunakannya dengan baik. Karena, itulah sikap dan cerminan rasa terima kasih saya atas pemberiannya. Bagaimanapun juga, sang pemberi sarung dan sajadah itu, adalah seseorang yang mampu membahagiakan hidup saya. Dia bisa membuat saya tertawa. Dia mampu menemani masa kesendirian saya. Dia mau membuatkan bekal roti isi keju dan meses coklat untuk saya. Dan, dia mau mengenalkan saya ke bapak, ibu dan adik adiknya. Hal hal itulah yang harus saya ingat, tentangnya. Hubungan saya dan pemberi sarung serta sajadah itu, pada akhirnya harus berakhir sebagai pacar. Tetapi semoga, di kemudian hari, kita mampu berteman, at least saling menyapa ketika bertemu.

Sarung dan sajadah itu, akan terus saya pakai dan saya simpan. Karena, memang saya membutuhkannya dan ingin tetap memakainya. Insha Allah saya bisa membeli sarung dan sajadah yang baru. Tetapi, saya akan tetap memakai sarung dan sajadah pemberiannya. Karena, saya tak ingin ada yang berubah dalam keseharian saya. Dia memang bukan pacar saya lagi, tapi bukan berarti dia harus pergi dari ingatan dan kehidupan saya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s