Prostaglandin F2α

Prostaglandin yang akan dibicarakan dalam tulisan ini, adalah ProstaglandinF2α (PGF2 α), yang merupakan sebuah hormon lokal, yang diproduksi oleh endometrium. Dalam fisiologi reproduksi, PGF2 α memiliki fungsi utama sebagai hormon yang melisiskan corpus luteum, sehingga bisa mengakibatkan dua keadaan, yaitu :

  1. Mengakhiri periode luteal dalam siklus estrus. Sehingga fase folikuler dapat segera terjadi, yang pada akhirnya dapat terjadi ovulasi.
  2. Mengakhiri masa kebuntingan, karena lisisnya corpus luteum akan mengakibatkan konstraksi uterus sehingga proses partus segera terjadi.

PGF2 α dalam teknologi reproduksi, sering digunakan sebagai bahan untuk melakukan gertak dan sinkronisasi birahi. Dengan fungsinya sebagai bahan yang melisiskan corpus luteum, maka penggunaan PGF2 α dapat digunakan untuk mengakhiri peride luteal dalam siklus reproduksi. Sehingga, segera setelah corpusl luteum lisis, peride folikuler akan segera dimulai, sehingga, proses ovulasi dapat segera terjadi. Dalam siklus reproduksi, biasanya periode folikuler berlangsung selama 1/3 dari sebuah siklus, sedangkan 2/3 sisanya adalah periode luteal.

Periode folikuler adalah periode dimana organ reproduksi utama dari hewan betina, yaitu ovarium melakukan pematangan folikel. Jumlah folikel yang dimatangkan adalah folikel tersier menjadi folikel de Graf. Proses ini melibatkan hormon utama Follicle Stimulating Hormone (FSH). Dan, injeksi hormon FSH dapat dilakukan untuk mematangkan lebih dari satu folikel, khususnya pada hewan yang bersifat monopara, sehingga dimungkinkan dapat terjadi kebuntingan kembar, atau menjadi induk donor dalam proses transfer embrio. Dalam periode folikuler, maka folikel yang matang, juga memproduksi hormon esterogen, dan ketika folikel telah matang, maka kadar esterogenpun menjadi sangat tinggi. Tingginya kadar esterogen ini berakibat pada munculnya gejala birahi, seperti kemerahan pada organ reproduksi sekunder (vulva dan ambing), dan mengakibatkan timbulnya perilaku gelisah. Selain itu, tingginya kadar esterogen akan mengakibatkan feed back positive terhadap produksi hormon Luteinizing Hormon (LH).

Fungsi utama hormon LH adalah menggertak ovarium untuk melakukan ovulasi, sehingga periode folikuler diakhiri dan masuk periode luteal. Periode ini merupakan periode yang terlama dari siklus reproduksi. Fase luteal, ditandai dengan berkembangnya corpus luteum, dan produksi hormon progesteron. Corpus luteum mempunyai fungsi utama sebagai penjaga dan pemelihara kebuntingan. Dalam fase luteal, seluruh organ reproduksi akan dikondisikan mengalami kebuntingan, dan salah satu contohnya adalah menutupnya rongga cervik, sehingga sel sperma kesulitan untuk masuk ke dalam tuba falopii. Dalam fase luteal, kopulasi antara pejantan dan induk betina selama periode luteal sulit menghasilkan sebuah fertilisasi.

Periode luteal dapat diakhiri dengan kehadiran PGF2 α, yang diproduksi karena adanya peningkatan hormon oksitosin. Hormon tersebut diproduks oleh corpus luteum yang terdapat dalam ovarium. Sehingga semakin besar ukuran corpus luteum, maka kadar hormon oksitosin akan terus meningkat, sehingga merangsang uterus untuk memproduksi PGF2 α.

Aplikasi PGF2 α dalam teknologi reproduksi adalah sebagai pengertak birahi, dengan landasan teori seperti yang telah dijelaskan diatas. Efektivitas PGF2 α sebagai penggertak birahi, jika dilakukan selama 1 kali pemberian hanya mencapai 67%. Hal ini didasari atas fakta, bahwa daya kerja PGF2 α sebagai penggertak birahi hanya mungkin dilakukan saat terdapat corpus luteum, dan ini berlangsung selama 2/3 (67%) masa reproduksi. Jika gertak birahi dilakukan pada induk yang sedang mengalami fase folikuler, maka injeksi PGF2 α tidak akan berpengaruh.

Selain itu, PGF2 α juga dapat digunakan sebagai sinkronisasi birahi, yaitu sebuah aplikasi teknologi reproduksi untuk menyamakan fase reproduksi antara dua induk betina, atau lebih. Biasanya sinkronisasi birahi dilakukan sebagai bagian dari proses transfer embrio. Selain itu, sinkronisasi birahi juga dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan anak dengan umur yang seragam, dari beberapa induk sekaligus.

Sifat sebagai bahan yang melisiskan corpus luteum, pada akhirnya juga membuat PGF2 α sebagai bahan yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan aborsi. Biasanya, jika kebuntingan masih dalam usia yang muda, PGF2 α dapat digunakan untuk menggugurkan kebuntingan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s