Imunokontrasepsi

Imunokontrasepsi, pada dasarnya adalah sebuah perpaduan antara imunologi dan kontrasepsi. Imunologi adalah sebuah cabang ilmu biologi dan kedokteran, yang mempelajari sistem pertahanan tubuh. Sedangkan kontrasepsi adalah sebuah metode untuk mengatur kehamilan (dalam dunia veteriner disebut kebuntingan) dengan cara menghambat proses konsepsi, yaitu pembuahan sel sperma terhadap sel telur. Imunokontrasepsi, pada saat ini mulai banyak dikembangkan, sebagai alternatif metode kontrasepsi, yang pada saat ini banyak menggunakan preparat hormon (esterogen, dan progesteron), operasi (ovarihisterektomi, tubektomi) serta hambatan fisik seperti kondom dan diafragma.

Imunokontrasepsi dikembangkan sebagai alternatif untuk mengembangkan sebuah metode baru, yang lebih aman, efektif, dan dapat diaplilkasikan dengan mudah, serta reversibel, artinya pengguna imunokontrasepsi dapat kembali mendapatkan siklus dan fungsi reproduksinya secara normal, ketika sudah tidak menggunakannya. Imunoontrasepsi, sepengetahuan saya, biasanya dikembangkan dari sebuah protein yang spesifik, yang hanya muncul saat kebuntingan. Dan, yang tak kalah penting, protein spesifik tersebut, haruslah mempunyai peranan penting, dalam menunjang kebuntingan. Tetapi, seiring dengan etika kedokteran, imunokontrasepsi tidak mempengaruhi proses embriogenesis. Artinya, imunokontrasepsi haruslah dikembangkan untuk menghambat proses fertilisasi, dan berperan sebelum embrio memasuki fase implantasi di dalam rahim.

Pengembangan metode imunokotrasepsi pernah saya lakukan, dalam rangkan penulisan skripsi. Bahan yang dikembangkan menjadi agen imunokontrasepsi adalah Antibodi Early Pregnancy Factor (ANTI EPF). Early Pregnancy Factor (EPF) adalah sebuah protein spesifik yang diproduksi oleh ovarium dan tuba falopii ketika terjadi fertilisasi. ANTI EPF adalah sebuah anti bodi terhadap EPF yang dibuat dengan cara menginjeksikan EPF ke hewan coba (kelinci jantan). Dan ternyata, setelah diuji pada hewan coba (mencit betina), efektifitas EPF sebagai bahan penghambat kebuntingan mencapai 100%. Artinya, mencit yang disuntikkan ANTI EPF tidak mengalami kebuntingan. Namun, sayangnya sepertinya penggunaan ANTI EPF sebagai bahan imunokontrasepsi mendapatkan kendala, khususnya dalam bidang etika kedokteran, karena bersifat sebagai bahan yang abortivum. Cara kerja ANTI EPF dengan cara menghambat proses embriogenesis, setelah terjadi proses implantasi.

Dengan latar belakang tersebut diatas, maka sudah seharusnya, pemilihan sebuah protein yang akan dikembangkan sebagai bahan imunokontrasepsi, didasarkan atas daya kerjanya dalam menghambat proses pematangan sel gonad, menghambat konsepsi, menghambat proses pembelahan sel, dan mengeblok proses implantasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s