Antibiotika

Antibiotika adalah sebuah bahan yang bersifat antibakterial dan mampu membunuh beberapa mikroorganisme patogen lainnya, seperti parasit dan jamur. Antibiotika pertama yang ditemukan adalah penisilin, yang ditemukan oleh seorang peneliti Inggris, Sir Alexander Flemming, pada tahun 1926. Di dunia kedokteran dan kedokteran hewan, antibiotika merupakan sebuah bahan yang berperan penting dalam penanganan kasus infeksi bakteri. Dan, dalam tulisan ini, saya tuliskan beberapa pengetahuan saya mengenai pengelompokan antibiotika, berdasarkan cara kerja dan struktur bangun utamanya.

Bakterisidal adalah sifat dari sebuah bahan yang mampu membunuh bakteri. Antibiotika yang bersifat sebagai bakterisidal, adalah antibiotika yang mekanisme kerjanya sebagai berikut :

  1. Merusak sintesis dinding sel. Antibiotika yang daya kerjanya merusak sintesis dinding sel antara lain antibiotika beta laktam (penisilin dan derivatnya, dan cephalosporin dan derivatnya), polypeptida (vancomycin), cycloserine, dan bacitracin.
  2. Mempengaruhi Permiabilitas membran sel. Antibiotika yang daya kerjanya mempengaruhi permeabilitas sel membran adalah polimiksin.

Baktriostatik adalah sifat dari sebuah bahan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotika yang bersifat sebagai baktriostatik adalah antibiotika yang mekanisme kerjanya sebagai berikut :

  1. Menghambat sintesis protein pada ribosom. Antibiotika yang menghambat sintesis pada ribosom adalah makrolida (eritromisin, spiramisin), tetrasiklin (oxytetrasiklin, doxycicline, tigecycline, tetrasiklin), lincosamide, streptogramin, cloramfenikol, dan aminoglikosida (gentamicin, kanamicin).
  2. Menghambat metabolisme asam folat pada struktur DNA. Antibiotika dalam kelompok ini adalah sulfonamida (preparat sulfa) dan trimetoprim.
  3. Menghambat sintesis dan merusak struktur DNA. Antibiotika dalam kelompok ini adalah quinolon (ciprfloxacin, enrofloxacin), rifampin, dan nitroimidazole.

Meskipun antibiotika digolongkan menjadi bakterisidal dan bakteriostatik, tetapi pada dasarnya, sebuah antibiotika dapat bersifat keduanya, tergantung dari dosis dan cara aplikasinya. Artinya sebuah bakteriostatik dapat menjadi bakterisidal apabila diberikan dalam dosis yang tinggi dan diaplikasikan secara sistemik. Misalnya, tetrasiklin dapat menjadi bakterisidal ketika diberikan secara intravena dengan dosis yang lebih tinggi dibandingkan dosis ketika diberikan secara peroral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s