Idealisme Penulisan Skripsi

Skripsi, bagi mahasiswa strata 1 (s1) adalah sebuah karya tulis, yang menjadi syarat mutlak untuk meraih gelar sarjana. Menurut pendapat saya, seorang sarjana, haruslah memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai, untuk terjun dalam membangun bangsa dan negara. Dan, menurut saya, skripsi adalah salah satu miniatur kecakapan dan penguasaan seseorang pada bidang keilmuan yang ditekuninya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah pelatihan statistika, yang diawali oleh materi metode penelitian, yang dibawakan oleh Prof. Sarmanu. Dalam materinya, Prof. Sarmanu, menjelaskan perbedaan mendasar antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dan, menurut pemahaman saya, penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menulis skripsi, seharusnya adalah sebuah penelitian kuantitatif. Mengapa ?

Karena sebuah penelitian kuantitatif adalah sebuah penelitian untuk membuktikan kebenaran dari sebuah teori yang sudah ada. Dan, bagi saya, semua skripsi pada dasarnya adalah sebuah penelitian untuk membuktikan sebuah teori. Seorang mahasiswa s1 hanya dibebani untuk merumuskan masalah, dan menganalisis serta memecahkannya berdasarkan teori yang ia pelajari, selama semester 1 hingga semester 7 atau 8. Pemahaman saya, penelitian kualitatif, yang tujuannya mencari sebuah teori yang baru, bukanlah ranah studi mahasiswa s1, tapi untuk tingkatan yang lebih tinggi, yaitu mahasiswa s3.

Lazimnya sebuah penelitian kuantitatif, maka yang menjadi ciri khas adalah adanya sebuah hipotesa. Hipotesa pada dasarnya adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang telah dituliskan. Dan, pada akhirnya diuji secara empiris dengan melakukan penelitian dan uji hipotesa. Hasil uji hipotesa, akan menjadi landasan dalam menarik sebuah kesimpulan, dan proses untuk menyimpulkan hasil uji hipotesa dituliskan dalam sebuah pembahasan.

Apabila seorang mahasiswa s1 melakukan sebuah penelitian deksriptif, maka pertanyaanya ? Hal baru apa yang ingin diketahui dalam sebuah penelitian tersebut ? Sangatlah janggal, apabila sebuah penelitian deskrpitif dilakukan hanya untuk mengetahui titer antibodi virus influenza pada unggas di sebuah daerah, atau seberapa besar daya antibakterial sebuah dari sebuah tanaman obat. Karena pada dasarnya, itu semua telah dirumuskan dan membentuk teori yang ada. Jadi, seorang mahasiswa seolah olah melakukan sebuah penelitian baru, yang pada dasarnya telah ia pelajari di sebelum menuliskan skripsi. Apakah penelitian ini layak untuk dijadikan skripsi ?

Hal yang kurang tepat ketika mahasiswa s1 melakukan sebuah penelitian deskriptif adalah tiadanya uji statistika dalam metode penelitiannya. Tiadanya uji statistika, pada dasarnya memperlemah kesahihan skripsi tersebut. Karena, skripsi tersebut tidak dapat dijadikan acuan untuk melakukan generalisasi terhadap sebuah populasi. Artinya, jika penelitian tersebut ingin melihat pengaruh pemberian obat A terhadap tekanan darah pada mencit, maka penelitian deskriptif, hanya bisa dijaikan acuan untuk menarik kesimpulan pada mencit yang menjadi obyek penelitian saja, bukan populasi mencit secara keseluruhan. Padahal biasanya dalam tujuan dan manfaat, mahasiswa menngharapkan sebuah tambahan data bagi pengembangan teori dan dapat dijadikan pijakan dalam mengaplikasikan hasil yang didadapatkan terhadap sebuah populasi, bukan hanya individu.

Jadi idealnya, skripsi mahasiswa adalah sebuah karya tulis yang didasarkan atas sebuah penelitian kuantitatif yang disertai dengan sebuah kajian dan uji statistika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s