USUL Seorang Pendosa

 

 

Bulan maret sudah di depan mata, dan mungkin  banyak diantara anda yang punya putra/i yang sedang bersekolah di tingkat sd, smp, dan sma, pasti akan lebih meningkatkan intensitas pendampingan belajar putra/i anda. Jika pendampingan anda sebagai orang tua dirasa kurang, maka beragam bimbingan belajar pun mulai dipilih, mulai dari belajar tambahan di sekolah, les di lembaga bimbingan belajar, hingga meminta bantuan guru privat. Tak salah memang, keberhasilan anak dalam menempuh pendidikan adalah sebuah kebanggaan dan prestise bagi orang tua. Apabila anak anda memiliki nilai yang bagus dan dapat belajar di pendidikan tingkat lanjut di sekolah favorit akan menjadi bahan obrolan yang sangat menyenangkan di acara arisan, reuni dan aneka kegiatan sosial lainnya.

Hal diatas adalah sebuah fenomena sosial yang terkait dengan sistem pendidikan di negeri kita. Gambaran diatas bukan terjadi setahun atau lima dasawarsa terakhir. Sejak ibu saya masih mengeyam pendidikan di tingkat sd, hal ini sudah terjadi. Tetapi semenjak diberlakukannya sistem UNAS yang menjadi penentu akhir sebuah kelulusan di tingkat smp dan sma, tekanan bagi para siswa, guru dan pada akhirnya menjadi bertambah. Keputusan pemerintah untuk menetapkan nilai minimal pada unas sebagai patokan kelulusan, membuat beberapa pihak melakukan antisipasi. Para pelajar mengantisipasinya dengan lebih serius belajar, meningkatkan frekuensi beribadah dan berdoa. Para guru pun tak kalah heboh. Mereka rela menambah jam mengajarnya demi memberikan tambahan materi bagi anak didiknya. Tapi, tekanan harus lulus, tak bisa disikapi secara positif saja, langkah sedikit nekat pun dilakukan oleh para pendidik, terbukti, kecurangan unas yang berhasil dikuak meningkat, dan semakin menjadi setelah terungkapnya kasus contek masal di kota Surabaya.

Terkait dengan contekan, apabila menyontek dikaitkan dengan sebuah dosa, maka dengan jujur saya akui diriku adalah pendosa. Bagaimana tidak, selama smp hingga sma, 99,99% ujian, saya kerjakan dengan bantuan lirikan, desahan, bisikan, kertas berjalan, prasasti di dinding, meja, dan aneka trik curang lainnya. Tidak perduli apakah itu ulangan harian, ebtanas, ebta, saya kerjakan dengan memanfaatkan kerjasama tim.

Mencontek memang perbuatan dosa, dan membohongi diri sendiri. Dan saya rasa pendosa seperti saya yang harus mencotek demi lulus ujian tak akan berkurang jika sistem pendidikan kita seperti ini. Apa alasannya? Tak lain dan bukan adalah sistem pendidikan kita yang menitikberatkan pada unsur MENGHAFAL dan unsur KOGNITIF.

Semua pelajaran, terutama di tingkat sd dan smp sangat mengedepankan kemampuan menghafal. Bahkan pada pelajaran matematika, menghafal rumus dikedepankan dibanding menggunakannya. Contoh konkritnya, saat pelajaran mengenai luas bidang datar, maka anak sd diharuskan untuk menghafal rumus luas persegi, persegi panjang, lingkaran, jajar genjang, aneka bangun datar lainnya. Meski saat ini saya masih berstatus single, saya bisa merasakan sedih dan tertekannya anak2 yang kebetulan kemampuan untuk menghafalnya dibawah nilai rata rata. Pada beberapa anak yang nilai matematikanya rendah, sebenarnya bukan karena ketidakmampuannya menyelesaikan soal, tapi lebih pada lemahnya daya ingatnya terhadap rumus rumus yang harus digunakan. Kenapa hal ini terjadi, karena anak anak itu kebanyakan disuruh menghafalkan rumus, bukan menggunakannya untuk mengerjakan latihan. Karena dengan menggunakan rumus dalam mengerjakan soal secara intensif maka otomatis otak kita akan merekam dan menangkap memori dengan perlahan tapi pasti. Proses ini membutuhkan waktu, tapi jauh lebih mudah.

Sebagai ilustrasi , saat sekolah dulu, meski ada 40 orang teman dalam sekelas, dalam waktu kurang dari seminggu pasti anda akan dengan sendirinya mengenal mereka. Padahal anda tidak pernah menghafal mereka satu persatu kan? Itu terjadi karena secara perlahan seiring intensitas anda bersosialisi dengan mereka, maka otak anda akan merekam nama, alamat dan hal hal detail lainnya mengenai teman anda.

Itu baru matematika. Bagaimana jika pelajaran biologi dan sejarah? Banyak sekali unsur unsur “gak penting” yang harus dihafal. Mengapa kita harus menghafal taksonomi bunga mawar, mulai dari filum hingga spesiesnya, padahal dalam kehidupan kita hanya membutuhkan bunga melati sebagai pengharum ruangan atau ramuan anti bau badan? Lebih penting mana kita menghafal tanggal kejadian perang Diponegoro dibanding dengan alasan yang menjadi landasan utama terjadinya perang tersebut? Akhirnya karena hanya dihafalkan, maka ingatan kita akan taksonomi bunga mawar dan tanggal pecahnya perang Diponegoro-pun menjadi terbatas. Mungkin seminggu setelah ujian ingatan kita akan terus memudar.

Seperti yang telah saya tuliskan. Saya boleh dikata adalah seorang pencontek ulung. Saya masih ingat, ketika ujian akhir catur wulan (CAWU). Ketika waktu ujian tinggal 30 menit, lembar jawaban saya baru terisi 30% saja. Tapi, ketika guru pengawas tertarik untuk membaca majalah yang kami sediakan di meja guru, hanya 5 menit saja, 100% lembar jawaban saya terisi. Padahal, saya duduk di posisi paling depan. Jadi meski tak pernah belajar, nilai saya cukup baik, untuk naik kelas. Tak hanya itu. Di bangku smp dan sma, nilai bahasa inggris saya, tak pernah mendapat angka 7, selalu dibawahnya, bahkan saya hampir tak naik kelas saat kelas 1 sma, karena nilai bahasa inggris saya 5. Tapi, saat duduk di semester 7 di bangku kuliah, nilai toefl saya bisa melebihi angka 450, padahal saat kuliah saya hanya belajar bahasa inggris selama 1 semester saja, dan hanya mendapat nilai BC. Kesuksesan saya mendapat nilai 450 tidak saya dapatkan dari mencontek, tapi karena saya mengikuti pendidikan bahasa inggris di sebuah lembaga pendidikan bahasa asing. Dan, ternyata meski hanya kursus selama 6 bulan kemampuan bahasa inggris saya meningkat drastis. Kenapa? Karena metode pembelajarannya yang berbeda. Di bangku sekolah, bahasa inggris diajarkan dengan sangat baku, terutama menyangkut tata bahasa atau grammar. Tapi, di lembaga kursus, praktik dengan berbicara dan MENULIS lebih ditingkatkan. Dan pada akhirnya, grammar kita akan membaik dengan sendirinya.

Aspek kognitif yang sangat dipentingkan dalam proses belajar, juga membuat nilai saya jauh dari memuaskan di masa masa awal kuliah. Bagaimana tidak, saya bersekolah di jurusan kedokteran hewan, yang sangat mengedepankan unsur hafalan, terutama untuk mata kuliah dasar seperti anatomi, histologi, biokimia, mikrobiologi, parasitologi dan sebagainya. Tetapi nilai saya membaik setelah mata kuliah yang lebih menekankan logika khususnya terkait dengan patogenesa dan terapi mulai diajarkan. Dan saya dapat lebih memahami materi kuliah yang diajarkan apabila ujian diadakan dalam bentuk essai. Biasanya nilai ujian essai saya jauh lebih baik dibanding jika ujian dilaksanakan dengan pilihan berganda. Karena, saat ujian essai, saya bisa menuliskan apa yang saya pahami dan mengerti mengenai sebuah pokok bahasan. Dan tentu saja, dosen pengoreksi mengerti sejauh mana tingkat pemahaman saya dan lebih berimbang dalam memberikan nilai.

Seharusnya di jaman dimana ensiklopedia bukanlah sebuah benda yang langka, tidak seharusnya kita belajar denga cara menghafal. Tapi, lebih berganti menjadi memahami. Metode mencatat dan menghafal sudah selayaknya berganti menjadi menulis dan berdiskusi. Sudah nggak jamanya lagi kita menghafalkan present, past dan future tense demi lancar berbahasa inggris. Atau semalam suntuk menghafalkan nama latin buah alpukat, bunga mawar, biji padi, dan sebagainya. Jaman telah berubah, wikipedia, britanica encyclopedia, kamus online, spss, telah tercipta untuk membantu sebagian tugas otak kita untuk merekam memori, vocabulary, tenses, nama latin, dan rumus statistika.

Jadi, buat apa repot repot untuk menghafal? USUL saya sebagai mantan pecontek ULUNG, lebih baik membaca materi, lalu menulis pemahaman kita, dan mendiskusikannya bersama guru dan teman sekelas. Saya yakin, pemahaman kita akan jauh lebih baik dari pada guru menerangkan, murid mencatat, menghafal dan memilih huruf a/b/c/d/e pada saat ujian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s