Uji Sensitifitas Antibiotika

Antibiotika adalah bahan alami atau semi sintetis yang memiliki kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dan beberapa mikroorganisme, seperti parasit darah dan beberapa jenis jamur. Antibiotika pertama kali ditemukan pada tahun 1923 oleh Sir Alexander Flemming, seorang peneliti asal Inggris. Penelitian ini, sebenarnya bukanlah penelitian untuk menemukan sebuah bahan yang mampu membunuh bakteri. Sama seperti halnya ketika James Watt menemukan mesin uap dan Isaac Newton menemukan hukum gravitasi, penemuan antibiotika adalah sebuah penemuan yang bermula dari sebuah ketidaksengajaan, bahkan kalo boleh dibilang, sebuah hikmah dari melencengnya sebuah tujuan penelitian.

Dikisahkan, pada saat itu, Sir Alexander Flemming berniat untuk membiakkan bakteri Staphylococcus dalam sebuah media agar. Tapi, ternyata, karena rendahnya prosedur higeinitas dan sanitasi pada saat itu, ketika ingin melakukan pembiakan bakteri, secara tidak sengaja, biakan tersebut terkontaminasi oleh jamur Penicillium. Dan ternyata, ketika diamati, disekitar tempat pembiakan jamur Penicillium, koloni bakteri Staphylococcus tidak dapat tumbuh. Hal ini kemudian menjadi dasar untuk melakukan isolasi sebuah bahan spesisifik, yang bersifat antibakteri, dari jamur Pencillium. Dan, bahan antibakterial tersebut kemudian dikenal dengan nama penicillin.

Popularitas penicillin sebagai antibakteri dan antibiotika mencuat ketika terjadi perang dunia 2. Dalam peristiwa itu, tak terhitung lagi, banyaknya nyawa yang bisa diselamatkan, karena penggunaan penicillin. Lazimnya sebuah perang, mayoritas korbannya, mengalami luka terbuka karena ledakan bom, sabetan pedang dan bayonet, dan tajamnya peluru. Luka terbuka tersebut, menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus dan jamur, yang dapat mengancam nyawa para korban perang tersebut. Dan, dengan penicillin-lah, infeksi mikroorganisme patogen bisa diterapi dan dikendalikan, sehingga proses penyembuhan luka terbuka, yang dialami para korban perang tersebut, tidak berdampak terlalu parah, dan berhasil menyelamatkan nyawa mereka.

Keampuhan penicillin sebagai obat anti infeksi, mengilhami peneliti lainnya, untuk menemukan bahan dengan khasiat serupa. Dan, benar saja, tak berapa kemudian antibiotika Oxytetracycline dan Tetracycline serta Erythromycin, berhasil ditemukan. Dan, kebutulan juga, ketiga antibiotika tersebut juga berasal dari jamur beberapa spesies jamu Streptomyces. Saat ini, antibiotika telah digolongkan menjadi beberapa kelas, berdasarkan struktur dan rumus bangunnya, dan cara kerjanya dalam menjalankan fungsinya sebagai bahan antibakterial.

Berdasarkan rumus bangunnya, antibiotika dikelompokkan menjadi golongan beta laktam, aminoglikosida, glikopeptida, tetracycline, dan makrolida. Sedangkan berdasarkan cara kerjanya, antibiotika digolongkan menjadi penghambat sintesis dinding sel bakteri, penghambat sintesis protein di ribosom, penghambat metabolisme asam folat pada inti sel, dan antibiotika dengan kemampuan untuk merusak DNA.

Begitu banyaknya kelompok dan beragam cara kerja antibiotika, memang memudahkan dan membantu para tenaga ahli di bidang kedokteran dalam menangani kasus infeksi pada pasien. Tetapi, pertanyaan mulai muncul, dari sekian jenis antibiotika, manakah yang paling ampuh dalam menangani infeksi ?

Menurut pendapat saya, di era sekarang, dimana bakteri telah banyak mengalami resistensi terhadap antibiotika, penggunaan antibiotika sebagai bahan antiinfeksi, haruslah mempertimbangkan hasi uji sensitifitas bakteri, yang dilakukan secara berkala. Hal ini penting dilakukan, karena bakteri, sebagai makhluk hidup, ternyata juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mempertahankan eksistensinya di jagad raya ini. Penelitian untuk mengetahui pola resistensi bakteri terhadap antibiotika, terutama pada ternak, sudah banyak dilakukan. Termasuk, oleh saya sendiri, ketika menuliskan tesis saya. Ternyata, pola resistensi bakteri, dari hasil penelitian saya, terkait erat dengan struktur bangun dari antibiotika. Dalam penelitian tersebut, saya berhasil melakukan isolasi dan identifikasi bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus dari susu sapi perah. Dan ternyata, setelah dilakukan uji sensitifitas, bakteri MRSA resisten terhadap methicillin, penicillin, dan ampicillin. Hal ini membuktikan bahwa kemungkinan besar, MRSA resisten terhadap antibiotika beta laktam derivat penicillin. Dan, penelitian yang sama, menunjukkan bahwa MRSA peka terhadap tetracycline dan erythromycin. Hal ini membuktikan, bahwa resistensi MRSA terhadap antibiotika kelompok penicillin, bisa diterapi dengan tetracycline dan erythromycin.

Kenapa MRSA peka terhadap tetracycline dan erythromycin? Karena kedua antibiotika tersebut memiliki struktur bangun yang berbeda dengan kelompok penicillin. Selain, berbeda struktur bangunnya, perbedaan resistensi tersebut juga disebabkan oleh perbedaan mekanisme kerja antara kelompok penicillin dengan tetracycline dan erythromycin. Penicillin dan seluruh antibiotika golongan beta laktam bekerja sebagai penghambat sintesis dinding sel bakteri, sedang tetracycline dan erythromycine bekerja sebagai penghambat sintesis di organel ribosom bakteri.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya menyarankan untuk melakukan uji sensitifitas antibiotika secara rutin. Terutama pada peternakan yang berlangsung untuk jangka waktu yang lama, seperti peternakan ayam layer, sapi perah, sapi potong dan ruminansia lainnya. Uji sensitifitas tersebut haruslah rutin dilakukan, karena pada dasarnya bakteri yang menginfeksi sebuah peternakan, kemungkinan besar tetap berada di situ. Efektifitas antibiotika sebagai bahan antibakterial sangat ditentukan kepekaan antibiotika tersebut terhadap bakteri yang menginfeksi sebuah individu. Dan bakteri yang menginfeksi, tentu akan mengalami resisntensi, karena itu merupakan respon alami mereka untuk mempertahankan dirinya di jagad raya ini. Dan satu hal yang terpenting adalah, infeksi bakteri dan mikroorganisme tidak akan bisa diberantas 100%, tetapi bisa dikendalikan, karena pada dasarnya bakteri, baik yang patogen maupun yang non patogen sejatinya, kehadirannya juga dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dunia.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s