POTENSI BAHAYA SAAT BERKURBAN

Hari raya Idul Adha yang diperingati setiap bulan Dzulhijah dalam penanggalan sistem tahun Hijriah adalah salah satu momentum bagi umat muslim untuk mengaplikasikan ketakwaan dan ketaatannya kepada Allah SWT. Pada hari raya Idul Adha, umat muslim berkesempatan untuk menambah amal ibadahnya, dengan cara mengorbankan hewan ternak, untuk kemudian dibagikan pada mereka yang berhak, sesuai dengan tuntunan yang telah digariskan oleh-Nya, yang tersirat dan tersurat dalam kitab suci Al Quran, Hadits dan Sunnah.

Pelaksanaan pemotongan hewan ternak dalam hari Raya Idul Adha, adalah sebuah fenomena sosial keagamaan yang menarik untuk dicermati, dengan berbagai sudut pandang keilmuan, termasuk dalam sudut pandang ilmu kedokteran hewan (Veteriner). Dalam ilmu veteriner, hewan ternak merupakan obyek pembelajaran terkait dengan aspek klinis (kesehatan ternak), reproduksi (kesuburan ternak untuk berkembang biak) dan kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet).

Poin pertama pelaksanaan hewan kurban ditinjau dari sudut pandang kesmavet adalah migrasi ternak, dari kawasan peternakan ke pemukiman dan perkotaan. Migrasi tersebut, seperti yang terjadi di Kota Surabaya, harus mendapatkan perhatian khusus. Perhatian itu, terkait dengan kemungkinan berpindahnya agen agen penyebab penyakit (agen patogen), dari kawasan ternak ke kawasan perkotaan. Perlu diketahui, agen  yang bersifat patogen pada hewan, baik hewan ternak, peliharaan,  dan liar, dapat menyebabkan penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, atau sebaliknya. Penyakit zoonosis pada ternak, terutama pada kambing, domba, dan sapi, salah satunya adalah anthrax. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthraxis ini, memiliki kemungkinan yang besar, ditularkan dari ternak ke manusia, terkait dengan sifat patogenitas bakteri tersebut. Selain bakteri, agen patogen yang juga bisa masuk ke wilayah perkotaan, bersamaan dengan masukknya ternak, adalah ektoparasit (lalat, nyamuk, kutu, tungau, pinjal), cacing, dan protozoa. Potensi masuknya agen agen patogen pada ternak tersebut ke wilayah perkotaan, sudah selayaknya mendapat perhatian serius. Lalu lintas hewan ternak, sudah selayaknya mendapatkan pemeriksaan yang ketat (screening), guna mencegah masuknya agen agen yang secara epidemiologi bersifat tidak pernah ada, menjadi endemis (menetap). Sudah selayaknya di pintu pintu masuk kota, dibangun pos pos pemeriksaan hewan, untuk mencegah kemungkinan tersebut diatas.

Poin kedua yang perlu dicermati adalah potensi pencemaran mikrobiologis pada daging hewan kurban dan lingkungan. Kebanyakan pelaksanaan pemotongan hewan kurban, dilaksanakan di luar rumah pemotongan hewan (RPH). Saat hari Raya Idul Kurban tiba, secara mendadak, fasilitas publik, seperti masjid, halaman kantor, halaman balai rt, rw, desa, kelurahan, kecamatan dan sebagainya, menjadi RPH dadakan.

Kualitas daging hewan ternak, terkait erat dengan penanganan ternak tersebut saat pemotongan/penyembelihan. Salah satu faktor yang menjadi parameter adalah jumlah koloni bakteri dalam daging. Seiring dengan peningkatan standart keamanan pangan, jumlah koloni bakteri dalam bahan pangan, seperti daging, susu, telur, dan aneka olahannya harus memenuhi kriteria, yang telah ditetapkan. Pada peternakan sapi perah, harga dan pemeringkatan susu (grading) salah satu tolak ukurnya adalah jumlah koloni bakteri per ml susu. Semakin rendah jumlah koloni berimplikasi dengan semakin tingginya harga. Hal yang sama, juga terjadi pada peternakan ternak potong. Perusahaan pengolahan makanan asal hewan yang mengolah daging, melakukan uji mikrobiologis, sebagai bagian dari proses quality control. Uji mikrobiologis dilakukan tidak hanya untuk menjamin keamanan konsumen yang mengkonsumsi produk, tetapi juga menjadi tolak ukur prosedur operasional, terkait dengan masalah sanitasi dan higienitas. Dan, Hazard Analitycal and Critical Control Points (HACCP) adalah salah satu prosedur baku untuk menjamin bahan pangan hasil produksi dari sebuah perusahaan pengolahan pangan, termasuk bahan pangan asal hewan.

Jika kita cermati, pemotongan hewan kurban di luar RPH, sangat rentan terjadi pencemaran mikrobiologis. Titik pertama adalah proses pemisahan daging dari kulit. Metode sederhana yang diterapkan saat menguliti daging ternak adalah dengan cara menggantung ternak, sesaat setelah disembelih. Tujuan dari penggantungan adalah menghindari tercemarnya daging, dari mikroorganisme pada tanah. Proses penggantungan ini,kebanyakan dilakukan untuk ternak kambing dan domba, tapi, tidak semua tempat pemotongan hewan kurban non RPH melakukannya pada ternak sapi, terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana.

Proses pemisahan daging dan kulit, adalah salah satu titik bahaya, terkait dengan pencemaran mikrobiologis. Secara fisiologis, kulit adalah salah satu organ yang berfungsi sebagai pertahanan non spesifik. Ketika daging sudah terpisah dari kulitnya, maka, mikroorganisme, baik yang bersifat patogen maupun pembusuk, memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk menurunkan kualitas daging. Mikroorganisme tersebut tidak hanya terdapat dalam tanah saja. Air, udara dan vektor (lalat, nyamuk, kutu) bisa menyebabkan transmisi mikroorganisme dari lingkungan ke daging. Selain proses pemisahan kulit dan daging, titik rawan pencemaran mikrobiologis lainnya adalah saat pemisahan daging dan jerohan, serta pemotongan daging (pencacahan).

Salah satu langkah pengendalian terjadinya pencemaran mikrobiologis adalah pelaksanaan standar sanitasi dan higeinitas yang baik. Program desinfektasi dengan menggunakan bahan bahan bersifat bakterisidal (membunuh bakteri) pada lokasi pemotongan adalah sebuah kewajiban. Dan, daging hewan kurban yang dipotong di luar RPH sangat rentan mengalami pencemaran mikrobiologis, karena dilakukan di tempat publik, yang sangat sulit untuk dilakukan program desinfektasi secara sempurna.

Pelaksanaan hewan kurban di luar RPH, memang sudah sesuai dengan syariat agama, tetapi, juga perlu ditinjau aspek kualitasnya. Salah satu jembatan untuk melaksanakan ibadah sesuai syariat dan menghasilkan daging berkualitas adalah program koordinasi ibadah kurban, yang banyak dilakukan oleh lembaga lembaga amal dan zakat. Kebanyakan metode kurban pada lembaga tersebut adalah pelaksanaan pemotongan hewan kurban di RPH, dan pengemasan daging hingga menjadi daging olahan dalam bentuk kornet dan sosis, sehingga menambah masa kadaluarsa. Penambahan masa kadaluarsa tersebut menyebabkan daging kurban bisa disalurkan hingga ke pelosok daerah yang membutuhkan waktu pendistribusian lebih lama, sehingga lebih tepat sasaran, karena kebanyakan masyarakat di daerah pelosok dan terpencil termasuk ke dalam golongan yang berhak mendapatkan daging kurban.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s