Infeksi Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus adalah salah satu spesies bakteri. Bakteri ini, secara mikrobiologis dikelompokkan ke dalam bakteri Gram positif. Morfologi bakteri ini adalah berbentuk bulat, biasanya berkelompok sehingga menyerupai bentukan buah anggur. Bakteri adalah salah satu mikroorganisme, sehingga hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop, dan untuk Staphylococcus aureus bisa dilihat pada pembesaran 100x.

Bakteri gram positif adalah bakteri yang memiliki ketahanan terhadap alkohol. Ketahanan ini disebabkan oleh sususan lapisan luar dinding sel bakteri yang terdiri atas peptidoglikan dan asam teikoat. Kedua lapisan ini, tidak memiliki susunan lipida (lemak) yang dapat luntur ketika berikatan dengan alkohol. Sehingga ketika diwarnai dengan menggunakan gentian violet, lapisan peptidoglikan akan mengikat dengan kuat, sehingga bakteri Staphylococcus aureus akan bewarna kebiruan. Sedangkan bakteri yang memiliki struktur dinding sel yang terdiri atas lipopolisakarida, ketika berikatan dengan alkohol akan terlarut, sehingga ikatan antara gentian violet dengan lapisan luar akan terputus, digantikan dengan ikatan antara lapisan luar dengan safranin. Bakteri dengan struktur dinding sel yang tersusun atas lipopolisakrida adalah bakteri Gram negatif yang bewarna kemerahan karena tidak tahan terhadap alkohol.

Kesehatan manusia dan hewan ikut terpengaruh jika terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus. Pada dasarnya bakteri ini adalah bakteri komensal yang banyak berada di kulit. Tetapi, jika kondisi kulit terbuka karena adanya luka, maka bakteri ini akan bersifat patogenik. Patogenitas bakteri ini dikarenakan karena bakteri memproduksi toksin dan enzim. Salah satu toksin yang dihasilkan oleh bakteri ini adalah hemolisin tipe beta, yang mampu melisiskan sel darah merah. Sedangkan enzim yang dimiliki adalah koagulase. Enzim ini akan menyebabkan terjadi koagulase dari plasma darah. Enzim koagulase adalah enzim yang membedakan Staphylococcus aureus dengan bakteri genus Staphylococcus lainnya yang tidak patogen, seperti S. albican, S. albus dan S. saprphyticus. Enzim lain yang juga diproduksi oleh Staphylococcus aureus adalah katalase. Enzim katalase adalah sebuah enzim yang mampu mengubah Hidrogen Peroksida menjadi Air dan Gas Oksigen. Aktivitas enzim ini, membuat hidrogen peroksida menjadi kehilangan sebagai bahan antibakterial. Selain itu dalam bidang identifikasi bakteri, enzim katalase digunakan untuk membedakan bakteri genus Staphyloccoccus dengan Streptococcus.

Infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada hewan utamanya menyebabkan dermatitis dan abses. Luka pada kulit yang biasa terjadi pada saat pencukuran bulu, dehorning, dan pasca operasi,menjadi port de entre bakteri untuk menginfeksi. Selain luka, mastitis juga sering terjadi karena adanya infeksi bakteri ini. Pada kejadian mastitis, seringnya infeksi ini tidak menunjukkan gejala yang khas, sehingga dikategorikan sebagai infeksi sub klinis. Tetapi, yang sering terjadi adalah penurunan produksi dan kualitas susu. Susu yang terinfeksi Staphylococcus aureus berkualitas rendah, karena tinggi sel sel imun dalam susu, dan meningkatkan bahaya, karena dapat mengakibatkan Staphylococcal toxic shock syndrome. Kasus keracunan susu, karena cemaran bakteri ini sering terjadi, meski pada susu dalam kemasan. Susu dalam kemasan tercemar karena rusaknya kemasan, sehingga tercemar oleh Staphylococcus.

Infeksi bakteri Staphylococcus biasa diterapi dengan menggunakan antibiotika, khususnya penicillin dan derivatnya. Hal ini didasari atas kerja penicillin sebagai penghambat sintesis dinding sel, karena mampu berikatan dengan protein spesifik, yaitu penicillin binding protein (PBP), yang sangat dibutuhkan dalam proses transpeptidasi. Ikatan antara penicillin dengan PBP akan menyebabkan terhentinya transpeptidasi (tranpeptidase blocking), sehingga dinding sel tidak dapat terbentuk, sehingga bakteri akan mati. Selain penicillin, Staphylococus juga dapat diterapi dengan obat penghambat sintesis dinding sel lainnya, seperti cephalosporin dan vancomycin.

Tetapi, efektifitas penicillin mulai mendapat hambatan seiring ditemukannya kejadian resistensi bakteri terhadap penicillin. Resistensi disebabkan karena S. aureus memproduksi enzim penicillinase. Enzim ini akan mengakibatkan pecahnya struktur beta laktam pada penicillin, sehingga penicillin kehilangan daya antibakterialnya. Resistensi ini diatasi dengan modifikasi struktur beta laktam pada penicillin, sehingga muncul methicillin. Ternyata methicillin juga mulai kurang efektif untuk menerapi infeksi S. aureus karena protein PBP mengalami perubahan afinitas menjadi PBP2a. Resistensi bakteri S. aureus terhadap methicillin memunculkan istilah baru, yaitu Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Isolasi dan uji sensitifitas MRSA dari susu sapi perah telah dilakukan di Kota Surabaya. Berdasarkan tesis yang ditulis oleh Rizky Fajar Meirawan, MRSA ternyata resisten terhadap penicillin dan ampicillin. Tetapi sensitif terhadap tetracycline dan erythromycin. Sensitifitas kedua kelompok antibiotika tersebut dikarena perbedaan cara kerja antibiotika. Tetracycline dan erythromycin adalah antibiotika yang memiliki daya kerja menghambar sintesis protein di organel ribosom bakteri.

Resitensi S. aureus terhadap antibiotika haruslah mendapatkan perhatian yang serius. Karena, ternyata patogenitas bakteri lainnya seperti Streptococus dapat meningkat, karena bakteri tersebut mendapatkan perlindungan terhadap antibiotika dari penicillinase yang diproduksi oleh S. aureus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s