ZOONOSIS DAN RESISTENSI ANTIBIOTIKA

Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditransmisikan atau ditularkan dari hewan ke manusia, atau sebaliknya. Bagi sebagian orang, zoonosis memang terasa asing. Padahal beberapa penyakit zoonosis, tidak terasa asing lagi, contohnya adalah Rabies, Ebola, dan Flu Burung. Berbeda dengan penyakit infeksius lainnya, karena menyangkut kesehatan manusia dan hewan, maka zoonosis menjadi ranah studi dan kewenangan dua profesi, yaitu dokter dan dokter hewan. Peran dokter hewan dalam bidang zoonosis adalah pengendalian dan pencegahan penyakit zoonosis pada hewan, sehingga tidak menimbulkan potensi penyakit pada manusia, terutama peternak, pemelihara satwa, dan konsumen bahan pangan asal hewan (daging, susu, telur).

Kewenangan dokter hewan dalam pengendalian dan pencegahan penyakit zoonosis, adalah salah satu wujud pengamalan semboyan profesi tersebut dalam masyarakat, dan semboyan tersebut adalah “Manusya Mriga Satwa Sewaka” yang artinya Mengabdi Pada Kemanusian Melalui Kesehatan Hewan. Jadi pada hakikatnya keberadaan dokter hewan adalah untuk mengabdi kepada sesama manusia, melalui media hewan. Salah satu contohnya adalah peningkatan hidup dan kesejahteraan peternak dengan cara peningkatan kesehatan dan produksi ternak untuk meningkatkan kesehatan peternak. Dengan semboyan ini, maka dokter hewan tidak semata mata berusaha seoptimal mungkin mengobati hewan, tetapi secara tidak langsung memperbaiki kesejahteraan pemilik hewan. Oleh karena itu, dalam menjalankan profesinya, maka seorang dokter hewan tidak hanya memperhatikan aspek kesehatan semata dalam melakukan tindakan medis, tetapi juga memperhatikan keinginan dan kondisi keuangan pemilik hewan atau peternak.

Zoonosis dapat disebabkan oleh beberapa agen patogen, yaitu bakteri, virus, parasit, dan prion. Bakteri yang dapat menyebabkan penyakit zoonosis adalah Salmonella sp., E. coli, Staphylococcus aureus. Pengobatan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri adalah dengan menggunakan pengobatan antibiotika. Antibiotika adalah bahan alami atau semi sintetis yang memiliki daya kerja untuk membunuh (bakterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Beberapa jenis antibiotika yang populer antara lain adalah penisilin, ampisilin, amoksilin, dan tetrasiklin. Ternyata, penggunaan antibiotika untuk mengatasi infeksi bakteri menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi bakteri terhadap antibiotika.

Resistensi bakteri terhadap antibiotika mulai ditemukan pada era 70an. Salah satu bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap penisilin adalah Staphyloccoccus aureus. Pada awalnya, S. aureus mengawali resistensi terhadap penisilin, sehingga diatasi dengan menggunakan antibiotika metisilin, tetapi, tak lama setelah metisilin digunakan untuk mengatasi infeksi, maka S. aureus juga mengalami resistensi, sehingga muncul istilah baru dalam penamaan bakteri, yaitu Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA adalah bakteri yang dapat menginfeksi hewan dan manusia.

Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa pasca sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, berhasil mengisolasi 7 isolat MRSA dari sapi perah di Kota Surabaya. Adanya isolat MRSA pada hewan ternak dan peliharaan, perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa MRSA memiliki sifat sebagai penyakit zoonosis. Burch et al., 2008, menemukan data bahwa 23% peternak babi di Belanda telah terinfeksi MRSA, sehingga, beberapa kelompok masyarakat seperti peternak, pemelihara, dokter hewan, dan pekerja peternakan adalah kelompok yang rentan terinfeksi MRSA. Rentannya kelompok tersebut karena tingginya intensitas kontak mereka dengan hewan yang juga rentan terinfeksi MRSA.

Penyakit yang disebabkan oleh MRSA baik pada hewan atau manusia salah satunya adalah infeksi pada kulit yang dapat menimbulkan nanah. Salah satu pintu masuk infeksi (port de entre) MRSA adalah luka. Keparahan yang ditimbulkan oleh MRSA adalah resistensi yang mengakibatkan antibiotika kehilangan daya kerjanya sebagai agen bakterisidal atau bakteriostatik. Kegagalan tersebut membuat keparahan luka meningkat hingga menyebabkan organ yang terinfeksi harus diamputasi. Infeksi MRSA juga dapat meningkatkan keparahan infeksi bakteri lainnya.

MRSA mampu menghasilkan enzim beta laktamase, yaitu sebuah enzim yang mampu menginaktifkan antibiotika beta laktam, seperti penisilin, ampisilin ,dan amoksilin. Salah satu bakteri yang diuntungkan oleh adanya enzim penisilinase adalah Streptococcus, yang bisa menyebabkan radang paru paru atau pneumonia. Sebuah penelitian membuktikan bahwa Streptococcus mampu bertahan terhadap antibiotika beta laktam, karena terlindungi oleh penisilinase yang dihasilkan oleh S. aureus dan MRSA.

Isolat MRSA yang ditemukan pada sapi perah di Kota Surabaya, ternyata masih peka terhadap antibiotika tetrasiklin dan eritromisin, sehingga secara umum, maka MRSA dapat diobati dengan kedua jenis antibiotika tersebut. Penelitian untuk mencari antibiotika generasi terbaru yang efektif mengatasi infeksi bakteri terus dilakukan. Tetapi penelitian tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga berimbas pada harga jual antibiotika terbaru tersebut. Oleh karena itu, langkah yang tepat dilakukan adalah pengendalian dan tindakan surveilance untuk mengamati pola resistensi antibiotika MRSA.

Tindakan pengendalian dan surveilance perlu dilakukan untuk mencegah mewabahnya infeksi MRSA dan penyakit zoonosis lainnya. Salah satu langkah surveilance infeksi MRSA pada hewan adalah rutinnya pemeriksaan uji sensitifitas antibiotika terhadap bakteri yang diisolasi dari hewan. Sedangkan langkah pengendalian adalah penegakan peraturan dalam hal pemberian antibiotika oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini adalah dokter hewan. Karena, sering dijumpai di lapangan antibiotika digunakan pada hewan tanpa pertimbangan medis yang matang, terutama terkait dengan dosis, dan spesifisitas antibiotika yang digunakan. Penggunaan antibiotika yang dosisnya rendah, selain menyebabkan tidak optimal proses penyembuhan infeksi, juga memacu timbulnya resistensi antibiotika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s