rizkyfajarmeirawan

knowledge should be free

  • Ketika persahabatan harus berakhir…

    Perkenalkan, nama saya Rizky Fajar Meirawan. Ini nama asli pemberian dari kedua orang tua saya. Bapak Slamet Hariyanto, dan Ibu Kartanti Meirawati. Nama ini mungkin tersemat sejak akhir Mei 1983. Memang benar adanya saya lahir di bulan itu pada tanggal 28. Tetapi, apakah kedua orang tua saya, langsung menyematkan nama indah nan bermakna ini, ketika saya lahir? Atau menunggu beberapa jam atau hari kemudian? Itu pertanyaan. Meskipun bukan pertanyaan penting lagi krusial.

    Bukan karena nama Rizky Fajar Meirawan itu tidak penting. Substansi nama, bukan terletak pada “kapan” nama itu diberikan. Tetapi, apa filosofi, makna, harapan, dan do’a dari kedua orang tua saya, ketika mereka menyematkan nama ini sebagai identitas awal dan utama saya. Identitas ini melekat pada saya sebagai manusia merdeka, yang hidup di negeri elok, bagai intan permata, bernama Indonesia.

    Meirawan itu asal katanya berawal dari Meirawati. Nama belakang saya dan ibu, sejatinya sama. Karena ulang tahun kami berurutan. 1 hari setelah kelahiran saya, ibu saya merayakan peringatan ulang tahunnya yang ke-21. Ayah, sejak tahun 1970-an akhir, dah mendaku dan menyematkan dirinya sebagai budak cinta (bucin), kepada ibu saya.

    Alhamdulillah Allah SWT menakdirkan saya, lahir dan hidup sebagai anak pertama dan satu-satunya anak lelaki ayah. Alih-alih memberikan nama akhir “Hariyanto”, ayah memberikan nama “Meirawan”.

    Kata ayah kepada ibu, ketika mereka sedang mencari nama terakhir bagi saya,

    Biarlah ia menyandang namamu. Ia adalah anugerah terindah pertama bagi kita, dan karena di dalam rahimmu ia menemukan kehidupan, aku ingin mengabadikan sosokmu dalam jati dirinya selamanya.

    Kira-kira seperti itu ucapan ayah kepada ibu. Terasa romantis, menurut saya. Karena kebetulan, saya juga coba menarasikan secara berlebihan, dengan bantuan AI.

    Meski secara narasi tidak asli dan cenderung palsu, secara makna, asli dan original. Meirawan itu bukan marga. Tapi nama ibu, yang tersemat pada jati diri saya, karena keputusan ayah.

    Nama tengah saya, Fajar, karena saya lahir menjelang subuh. Mirip dengan kelahiran Sang Proklamator itu. Kami sama-sama putra yang lahir di waktu fajar. Tapi, jelaslah, saya putra Slamet Hariyanto, bukan putra sang fajar ya.

    Sementara makna kata Rizky, adalah serapan dari Bahasa Arab, rizq, yang bermakna rezeki.

    Rizky jelas, artinya rezeki. Dan sebenarnya, inti tulisan kali ini, mengenai rezeki.

    Mohon maaf jika Anda kesel. Karena tulisannya panjang, tapi sepanjang scroll, ternyata di 9 paragraf awal, itu baru intro atau pembuka saja. Tapi, kalau Anda mau skip atau melewatkan tulisan ini ya ga papa. Saya ga maksa. Toh saya bukan presiden ke 777, yang memaksakan diri, anak, mantu, dan kerabat untuk mengelola dan menjadi penyelenggara negara. (ehhhh…)

    Perkara rezeki, itu terjadi dengan nyata pada hari ini. Dan rezeki besar itu, saya dapatkan dan masih saya nikmati, hingga hari ini, ketika saya menuliskan kisah ini. Rezeki ini saya hampir selama 28 tahun. Dan rezeki besar itu mulai saya dapatkan pada pertengahan Juli 1998.

    Terdapat beberapa peristiwa penting bagi saya di sekitar tahun itu. Pertama, dunia mengenal kualitas tendangan bebas, yang sangat kencang dan akurat dari Roberto Carlos. Dia adalah bek kiri dari tim nasional sepak bola Brazil. Kedua, kemenangan tim nasional Iran atas Amerika Serikat pada Piala Dunia 1998.

    Ketiga, keberhasilan Zidane, menjadi motor utama tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia 1998. Zidane dan tim nasional Prancis pada saat itu, merepresentasikan Prancis sebagai tim yang multikultur. Zidane, bersama Thuram, dan Youri Djorkaeff bukan “Prancis asli”. Mereka adalah anak keturunan imigran dari negara-negara jajahan Prancis. Tak heran, jika tim ini mendapat julukan “Black-Blanc-Beur” yang artinya Hitam-Putih-Arab.

    Prancis, adalah negara Eropa pertama yang merasakan invasi imigran atas jati diri bangsa mereka. Di awali dari tim nasional mereka di bidang sepak bola. Ternyata, bukan orang asli Prancis yang bisa membawa negara mereka juara. Makanya, spiritnya, di bawa ke tanah air kita. Berupaya memadukan tim multikultur dalam satu tim kesebelasan sepak bola. Cuman, agak berbalik metodologinya dengan yang ada di Prancis.

    Peristiwa paling penting di tahun 1998 terjadi di minggu ketiga Juli di tahun itu. Pada saat itu, telinga saya mendengar bait berima berikut ini,

    Smalane… Suci dalam Pikiran…
    Smalane… Benar jika berkata…
    Smalane… Tepat dalam tindakan…
    Smalane… Dapat dipercaya…

    Syair ini, saya kenal sebagai sebuah lagu berjudul, SMALANE. Lagu ini sangat pendek, bukan mars atau hymne, tapi, entah mengapa, menjadi sangat emosional, dan monumental dalam kehidupan saya. Lagu ini dikenalkan dalam acara Masa Orientasi Siswa Baru Tahun 1998 di SMU Negeri 5 Surabaya. Jejak historis dan kebermaknaan lagu ini, melebihi lagu mars dan hymne dari almamater saya lainnya.

    Ketika saya, saat ini berikhtiar menghidupi diri, anak, dan istri, salah satu prinsip profesionalitas yang saya bangun, berakar dari lagu SMALANE. Lagu ini, mewakili karakter sebagian besar orang Surabaya. singkat, padat, to the point, dan ga usah kakean cangkem. Saya rasa, semua alumni SMU Negeri 5 Surabaya, akan selalu berusaha menjalani prinsip kehidupan, sebagaimana 4 prinsip kebaikan dan kerbermaknaan pada manusia, yaitu, suci dalam pikiran, benar jika berkata, tepat dalam tindakan, dan dapat dipercaya.

    Saya rasa, seorang muslim, yang berupaya menjalankan prinsip kehidupan sebagaimana filosofi dalam lagu SMALANE, sejatinya tidak hanya hidup dan menghidupi, tetapi juga beribadah dan bertindak serta berperilaku sebagaimana ajaran agamanya.

    Rezeki kedua yang saya dapatkan di Juli 1998 adalah persahabatan, atau setidaknya pertemanan yang berjalan dan merentang hingga menjelang 3 dasawarsa. Salah satu wanita paling berpengaruh dalam hidup saya, namanya Fira Nuraini. Dia teman sekelas ketika saya menjalani masa sekolah di kala berseragam putih abu-abu. Kami adalah warga JITU. Penghuni kelas 1-7, 2-7, dan IPA-7 di SMA Negeri 5 Surabaya pada tahun 1998 – 2001.

    Hidup bersama Fira, sebagai sesama siswa sma itu, bagaikan mengkreasikan menu nasi putih dihidangkan dalam satu mangkok bersama bubur ayam. Atau berusaha mengkreasikan hidangan mie ayam, dengan kuah berbahan dasar teh manis. Atau berupaya membuat campuran tahu dengan isian pasta carbonara. Atau berusaha memadukan isian pecel dan bumbu saus kacang, sebagai topping pizza.

    Semuanya bermuara pada beberapa kata, yang makna kurang lebih sama, yaitu :

    • Absurd
    • Ga masuk akal
    • Aneh-aneh, tingkahe

    Absurditas di masa sma itu, sejatinya adalah normalitas dan realitas sosial. Tidak terjadi dengan sengaja, tapi mayoritas individu mengalaminya. Menjadi bagian proses pendewasaan. Dari awalnya bodoh, menjadi manusia yang belajar dari kebodohannya.

    Oleh karenanya, manusia sangat menikmati ketika mengenang masa sekolah dan masa remajanya. Mengenang kebodohan yang tidak terjadi secara sengaja, dan sengaja berbuat bodoh, itu ternyata membahagiakan.

    Absurditas masa sekolah adalah sesuatu yang tidak hanya indah, tetapi juga layak dan wajib dikenang. Benarkan?

    Bersama Fira, setidaknya saya banyak mengenang masa-masa bodoh itu. Meski tidak bertatap secara langsung, obralan by WhatsApp Call lebih dari 40 menit, jelaslah menjadi bukti sah, bahwa, mengenang absurditas masa sma itu, bisa jadi tak bertepi, tak pernah mengenal batas akhir.

    Gambar di atas, adalah gambar tangkapan layar, bukti call saya dengan Fira, selama 165 menit. Bermula dari jam 21.42 berakhir di jam 00.27. Padahal awalnya, saya nelpon Fira itu, cuman mau konfirmasi beberapa hal sepele saja. Tak pikir cuman butuh waktu 5 menit. Ternyata, waktu tak bisa ditebak, lidah tak berhenti bicara, bibir tak pernah kuasa menutup rapat.

    Pembicaraan ini saya lakukan di sebuah parkiran, selepas saya meeting di bilangan Pondok Indah Mall. Dampaknya, biaya parkiran saya membengkak, hingga 49.000 rupiah.

    Menurut saya, biaya parkir segitu tergolong besar, sehingga saldo e-money saya ga cukup. Atas kemurahan hari Mas Ramadhian, petugas parkir di Beltway Office Park, saya boleh membayar parkir melalui transfer antar rekening.

    Percakapan panjang ini, sejatinya bukan kali pertama. Beberapa minggu sebelumnya, kami juga berbincang lama melalui WA Call.

    Fira itu, nama tenarnya, Yuson. Mengenai makna nama itu, tidak bisa saya ceritakan. Karena akan lebih panjang lagi. Semoga saya ada waktu untuk menjelaskannya kepada khalayak. Insya Allah.

    Jika saya bisa memiliki sahabat, atau setidaknya teman seperti Fira, dan Anda merasakan hal yang sama, sejatinya kita telah merasakan kenikmatan rezeki dari Tuhan, Allah SWT.

    Kita ini, adalah individu yang tercipta sebagai makhluk sosial. Keberadaan manusia lain, untuk menyempurnakan kehidupan kita, itu nyata, realitas, fakta, logis, dan tidak mengada-ada. Dalam perspektif ilmu kesehatan masyarakat, demi mencapai derajat sehat dan/atau memiliki hidup yang berkualitas, manusia membutuhkan dukungan sosial atau social support.

    Dalam konteks privat, social support terpenting dan paling utama adalah keluarga. Namun, tidaklah mungkin manusia hanya mengandalkan keluarganya untuk menggapai hidup yang bermakna. Kecuali, Anda anak dari presiden ke 777. (ehhhh….).

    Seiring dengan pertambahan usia, manusia pasti akan keluar dari lingkungan keluarga, masuk ke lingkaran yang lebih luas. Mayoritas, setelah keluar dari rumah, manusia akan masuk lingkungan sekolah. Nah, interaksi manusia dengan sesama rekan ketika bersekolah ini, turut menjadi sumber dukungan sosial.

    Bahkan dalam perspektif dan sudut pandang keilmuan manajemen, pengembangan diri, dan kepemimpinan, relasi pertemanan dengan teman sekolah ini tidak hanya menjadi dukungan secara sosial. Tetapi menjadi modal sosial atau social capital. Banyak manusia sukses, memiliki social capital, yang optimal, sehingga ia meraih posisi, kedudukan, dan jabatan yang bermakna, strategis, berdampak, dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

    Peran social capital nampak dari hidup para elit, dan tokoh publik di beberapa negara. Banyak tokoh besar, karena sejak remaja, ia bergaul dan mendapatkan dukungan dari sesama tokoh besar.

    Di Indonesia, seorang Kasino Hadiwibowo, memiliki social capital dari rekan-rekannya sesama mahasiswa Universitas Indonesia di era 1970-an, seperti Wahjoe Sardono, Rudy Badil, Namu Mulyono, dan Temmy Lesanpura, dan Hariman Siregar.

    Perkoncoan dan pertemanan saya dengan Fira pun, segaris dengan pola hubungan antar individu di atas. Ketika kita saling berbicara, memang didominasi tawa. Tapi, adakalanya, komedi dan satir, menjadi sebuah kebutuhan. Tidak hanya menambal kesepian,atau merombak kesedihan semata. Tetapi, juga berusaha tetap tertawa, meski realitas kehidupan berjalan getir. Terutama kehidupan sosial-politik-hukum (eehh…)

    Kita perlu setidaknya memutar masa kebodohan. Bukan untuk mengingkari nikmat pendidikan. Tapi, mengerti dan memaknai, bahwa kebenaran sejati, tidak pernah ada dan terjadi di dunia ini.

    Namun, bukan berarti kebenaran itu nisbi. Manusia harus berporoses. Mencari kebenaran. Dan apakah, kebenaran itu, bisa terus bertahan, atau berubah-ubah, dengan bantuan paman? (ehhh).

    Saya menulis ini dalam keadaan sadar. Tidak dalam paksaan. Apalagi dipaksa Fira menulis. Tidak tentu tidak.

    Saya menulis, karena saya berjanji, kepada Fira, untuk menuliskan secara singkat, kisah persahabatan kita. Dan memberitahukan kepada dunia, bahwa Fira adalah salah satu wanita yang berpengaruh dalam hidup saya.

    Tapi, yang perlu digarisbawahi, Fira dan saya itu murni berteman ya. Asli berteman. Seperti persahabatan saya dengan wanita-wanita teman sma, seperti Lysa Veterini, Angela Melinda, atau Ira Handriani.

    Kita harus sadar, memiliki teman akrab, yang secara domisili dan tempat tinggal berjauhan, tetapi bisa tetap saling terkoneksi dan berkomunikasi, itu anugerah. Betapa banyak manusia kaya, banyak harta, tapi merasa sepi, seperti mendiang Freddy Mercury (vokalis Queen).

    Teman yang baik akhlaqnya, meski bacot-nya kadang ga ada rem-nya, juga bagian dari rezeki. Karena di balik cocot yang terkesan urakan nan kampungan, justru terpendam kebenaran yang hakiki dan transparan.

    Berhubungan kembali dan merajut komunikasi dengan teman masa remaja, sejatinya upaya menengok potret kehidupan kita, di 25 hingga 28 tahun lalu. Dalam potret ini, bisa jadi ada potongan visual yang tak lagi relevan. Tapi, sejatinya, manusia yang terpotret di dalamnya, ada yang tetap, statis, tidak berubah.

    Jika yang tetap, statis, dan tidak berubah itu adalah kesetiakawanan, perasaan senasib sepenanggungan, saling menghargai, hormat-menghormati, dari rekan kita semasa remaja, saya rasa itu layak dan harus dipertahankan.

    Ada banyak manusia yang berubah, mengikuti dinamika dan perkembangan kehidupan. Tapi, ada yang memilih setia, membersamai kebersahajaan dan kesederhanaan dalam perkawanan, pertemanan, dan persahabatan. Inilah rezeki. Lebih-lebih jika dalam hubungan bersama konco lawas ini, banyak hal-hal positif yang kita dapatkan, dan pelajari. Setidaknya selalu diniatkan untuk sambung silaturahmi, dan saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan.

    Karena sesungguhnya, kita sedang mengupayakan akhir yang terbaik, ketika persahabatan itu harus berakhir.

    Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka (para sahabat mukmin) memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji…

    Potongan quotes di atas bersumber dari hadits Nabi Muhammad SAW. Secara singkat, hadits ini menggambarkan, kehidupan para manusia yang berhasil masuk surga, namun ia tidak menemui beberapa sahabatnya, yang bersama-sama melakukan kebaikan semasa di dunia.

    Oleh karena itu, para penghuni surga ini, memohon kepada Allah SWT, agar sahabat-sahabat mereka tersebut, dimasukkan ke dalam surga. Inilah bentuk syafaat (pertolongan) dari sahabat di akhirat nanti.

    Jadi, apa yang akan kita berusaha dapatkan ketika persahabatan itu harus berakhir?

    Menurut saya, ya, syafaat agar bisa masuk surga rame-rame.

    Aamiin Allahumma Aamiin. Wallahu alam bi shawab.

    Kiri-kanan: Saya, Fira Nuraini, Ira Handriani, dan Celtie Olga. Foto diambil sekitar tahun 2023. Kami adalah para konco lawas dan konco plek semasa bersekolah di SMUN 5 Surabaya.

Design a site like this with WordPress.com
Get started