Media Sebagai Cermin…

Jika kita berada di sebuah tempat, lalu ingin mengetahui karakter sebuah bangsa, apa yang harus diperbuat ?

Sederhana saja, salah satu cara mempelajari karakter sebuah bangsa, adalah dengan melihat, mengkaji, dan mendalami karya anak bangsanya. Hasil pemikiran, dan falsafah hidup sehari hari dari sebuah bangsa, akan tersirat maupun tersurat dari buku, kitab, tulisan, kisah, lukisan, patung, film, hingga isi media massanya.

Buktinya, para sejarahwan adalah para penggiat studi pustaka, untuk menggambarkan kejayaan atau akar permasalahan kehancuran sebuah bangsa. Dan, salah satu fungsi terpenting dari ilmu literasi dan budaya adalah mempelajari karakter sebuah bangsa. Jika salah satu tujuan ilmu arkeologi mempelajari bukti bukti fisik kejayaan masa lampau, maka salah satu fungsi ilmu sejarah dan budaya akan menggali dan mencari gambaran ruh kehidupan sosial di masa lampau.

Jika kita telah sepakat bahwa budaya, termasuk media massa menjadi cerminan dari karakter sebuah bangsa, maka simaklah beberapa cuplikan berikut ini :

http://www.youtube.com/watch?v=-w7RQlDAwqk

http://www.youtube.com/watch?v=VCwQYRoFVqg

http://www.youtube.com/watch?v=QKuVIhMI1MY

http://www.youtube.com/watch?v=V29Q2kbGRkk

http://www.youtube.com/watch?v=Xb4nUmKL2ZY

http://www.youtube.com/watch?v=geHL0UtlCFc

http://www.youtube.com/watch?v=Fn85mM194Uw

Inilah beberapa cuplikan acara yang tayang di beberapa stasiun televisi nasional di Indonesia. Saat ini, ada 11 stasiun televisi yang memegang hak siar secara nasional. Sepuluh televisi swasta, dan satu Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sepuluh televisi swasta ini, sejatinya hanya dimiliki oleh 5 kelompok perusahaan. Yaitu MNC Grup dengan RCTI, MNC TV, dan Global. CT Corp dengan Trans TV dan TRANS|7. Surya Citra Media Grup dengan SCTV dan Indosiar. Viva Grup dengan ANTV dan TV ONE. Serta Media grup dengan Metro TV.

Tersedianya 11 televisi yang siaran secara nasional, membuat persaingan industri penyiaran nasional menjadi sangat ketat. Persaingan dari masing masing televisi adalah memperebutkan iklan. Yang harus disadari, bisnis televisi di Indonesia, khususnya yang dijalankan oleh 10 stasiun televisi swasta adalah menggaet iklan, bukan untuk mendapatkan penonton.

Paradigma yang harus dipahami adalah televisi merupakan bisnis media, bukannya sebuah bisnis pertunjukan seperti bioskop, konser musik, ataupun sirkus. Televisi swasta dijalankan dan menggantungkan pemasukan dari pembelian slot iklan. Dan, iklan atau jeda komersial, memiliki beberapa bentuk. Mulai dari membeli slot di jeda di dalam program, blocking content, hingga sponsorsip. Pemahaman atas konsep ini harus disadari betul, bahwa semua tujuan penanyangan program televisi swasta adalah menjual diri sebagai media iklan.

Media massa sebagai sebuah alat untuk mengiklankan produk memiliki nilai strategis dari sisi kormersial. Disinilah, sebuah perusahaan bernama AC. Nielsen memiliki kuasa penuh atas kuantitas dan kualitas media massa sebagai alat pemasaran. AC Nielsen adalah sebuah lembaga riset, yang memiliki kemampuan untuk mengukur kemampuan media sebagai sumber informasi dan hiburan oleh masyarakat. Dan, seluruh media massa, terutama televisi dan radio, tunduk pada sistem rating dan share yang dirilis oleh AC. Nielsen setiap harinya.

Mengapa televisi dan radio harus tunduk kepada AC Nielsen ?

Karena manajemen pengelola stasiun televisi dan radio, tak mampu menyajikan data, berapakah jumlah pemirsa dan pendengarnya setiap harinya. Dan, di Indonesia, hanya AC Nielsen satu satunya perusahaan yang boleh, berhak dan diakui sebagai lembaga yang menyajikan data pemirsa televisi dan pendengar radio, tiap hari, tiap jam, bahkan tiap menitnya.

Berkaca dari hal ini, terdapat sebuah parameter yang pasti dalam menilai program televisi. Yaitu sebuah program yang mendominasi jam siaran adalah program yang mendapatkan nilai rating dan share yang tinggi. Tingginya rating dan share adalah penjamin harga slot iklan di program tersebut.

Artinya, dalam perspektif sederhana, penonton bukanlah konsumen dari televisi, khususnya program acara milik televisi swasta. Penonton adalah alat untuk mendapatkan harga tinggi dalam penjualan slot iklan.

Posisi penonton sebagai sebuah alat, bukannya konsumen dalam perspektif industri penyiaran membuat penonton tak memiliki hak yang kuat untuk mendapatkan sebuah program siaran yang sesuai dengan kebutuhan, terutama kebutuhan intelektualitasnya.

Namun, salah satu upaya pemerintah dan negara untuk menjamin kelayakan sebuah program penyiaran terletak dalam sebuah lembaga bernama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga inilah yang menjadi alat pemerintah untuk mengontrol konten, tema, dan isi sebuah program siaran, baik televisi maupun radio. Dan, KPI sebagai lembaga yang menjalankan fungsinya sebagai regulator dan mediator dunia penyiaran di Indonesia membutuhkan masukan dari masyarakat untuk menilai dan memastikan kelayakan sebuah program siaran. Bentuknya adalah formulir aspirasi dan aduan yang ada dalam situs resmi mereka.

http://www.kpi.go.id/

Pengertian dan pemahaman konteks bisnis dalam dunia penyiaran khususnya televisi akhirnya bermuara pada satu hal. Indonesia, jika menggunakan siaran televisi sebagai cerminan kondisi bangsanya ternyata masih dalam tataran penghamba hiburan. Bangsa Indonesia, ternyata menggunakan televisi sebagai alat untuk mencari hiburan.

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

  1.  Karena televisi adalah alat elektronik penyaji hiburan yang lengkap secara tekhnis, karena adanya audio visual, menyajikan kualitas gambar dan suara yang sempurna. Televisi adalah sumber hiburan yang murah. Hanya membeli satu unit televisi serta seperangkat antena, tersedia 11 stasiun nasional dan puluhan stasiun lokal yang menyajikan aneka program. Biaya rutin yang harus dikeluarkan hanyalah biaya listrik saja.
  2. Karena parameter televisi khususnya televisi swasta adalah rating dan share AC. Nielsen saja. Perlu diketahui, AC. Nielsen sejatinya memiliki kapasitas yang lebih hebat dibandingkan dengan Departemen Penerangan di masa lalu. AC. Nielsen memang tak memiliki kuasa untuk menghentikan sebuah acara. Namun, jika AC Nielsen telah menetapkan sebuah program televisi ber-rating dan ber-share rendah, maka bisa dipastikan program ini akan berhenti siaran dengan sendirinya. Jika Departemen Penerangan memiliki SK Pemberhentian Siaran, atas nama pemerintah, maka AC. Nielsen memiliki angka rating dan share yang sangat berkuasa menentukan nasib sebuah program televisi. Ingatlah, 10 dari 11 stasiun televisi adalah milik perusahaan swasta. Iklan adalah sumber pemasukan yang utama. 
  3. Karena TVRI telah kehilangan daya dan upaya menjadi stasiun televisi yang diminati oleh penonton. Yang harus diingat TVRI adalah sebuah televisi yang dibiayai oleh pemerintah, sehingga meskipun tetap menerima pemasukan dari iklan, hal ini bukanlah topangan utama dari aktivitas siarannya. Tapi, situasi ini membuat TVRI kehilangan kesempatan untuk bersaing dengan televisi swasta. Konsep acara yang menarik agaknya semakin menjauh dari image TVRI. Menonton TVRI di saat ini, hampir tak ada beda dengan siaran TVRI di era 1980-an. Bisa dikatakan TVRI hanyalah menjalankan fungsinya sebagai lembaga penyiaran pemerintah, sehingga terkesan menjalankan aktivitas seadanya. Jika kantor dan studio televisi swasta sanggup beroperasi hingga 24 jam, maka kantor pusat TVRI di Jakarta nyaris tak berpenghuni ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Posisi ini, sangat memprihatinkan, mengingat TVRI sejatinya menjalankan aktivitas siarannya dari uang pajak, yang sejatinya berasal dari masyarakat. 

Saya memang manusia biasa, tanpa jabatan, bukan jajaran top direksi atau manajemen. Namun, sudah menjadi hak saya untuk berpendapat. Bahwa suka tidak suka, acara acara televisi kitalah, yang menujukkan jatidiri kita sebagai bangsa kepada dunia.

Dan, hal ini membuat sebagaian masyarakat menjadi gerah. Mereka seakan memprotes, mengomel, bahkan marah, karena rendahnya kualitas siaran televisi di mata mereka. Dan, cara mereka menujukkan kekecewaannya atas kualitas tayangan televisi adalah melalui media sosial.

Tak ada yang salah akan hal ini. Tapi, sekali lagi, tengoklah kondisi bangsa ini secara global. Jika acara hiburan menjadi dominan di televisi kita, seharusnya selaras dengan level pendidikan rata rata bangsa Indonesia yang tak sampai enam tahun bersekolah.

Apakah kualitas tayangan televisi akan selamanya seperti ini di negeri kita ?

Saya nyatakan TIDAK.

Kualitas tayangan televisi pasti akan meningkat, jika kondisi intelektualitas bangsa meningkat.

Kualitas tayangan televisi pasti akan meningkat, jika kondisi kesejahteraan bangsa meningkat.

Kualitas tayangan televisi pasti akan meningkat, jika kondisi sosial kemasyarakat meningkat.

Nah, solusi sementara untuk mencari menyikapi program televisi ada beberapa langkah :

  1.  Perbaiki dan audit sistem riset AC Nielsen yang menyajikan data rating dan share.
  2. Bentuk perusahaan serupa yang memiliki legalitas di mata praktisi penyiaran sejajar dengan AC Nielsen.
  3. Belilah seluruh slot iklan yang dijual oleh stasiun televisi. Sehingga anda memiliki kontrol untuk mengatur isi acaranya.

Jika tiga hal ini tak mampu anda lakukan. Maka :

1. Selektif dalam memilih acara.

2. Berlangganan televisi berbayar.

3. Beralih ke media lain sebagai sumber informasi dan hiburan yang sesuai dengan intelektualitas anda.

Mungkin ketiga hal inilah yang dapat anda lakukan. Sehingga ketika menjadi penonton televisi, anda bukanlah alat untuk kampanye dan peningkat nilai rating dan share. Tapi, anda adalah konsumen dari program televisi, layaknya posisi anda sebagai penonton bioskop atau konser musik.

Anda harus menyadari, program siaran televisi tak selamanya melulu soal hiburan. Dan, sesuai pengamatan saya secara pribadi, program program televisi yang memiliki kedalaman informasi dan kaya akan makna namun menghibur amat jarang anda saksikan di saat “prime time“.

Posisi orang intelek di mata AC Nielsen adalah minoritas. Sehingga sajian prime time di layar televisi selalu menghibur mayoritas bangsa dari perspektif intelektualitas.

Akhirnya…

Salah satu cermin intelektualitas di mata saya dari seorang pribadi adalah…

“APA yang ada di layar televisi ANDA di saat PRIME TIME ?

Sebagai bahan bocoran, prime time di mata praktisi pertelevisian dimulai pada saat matahari beranjak ke peraduan hingga dua jam sebelum tengah malam. (Semoga anda paham dengan deskripsi waktu ini…)